Kepolosan Kadang Membuat Orang Selamat

 

Ceritanya di tahun 90-an awal, sewaktu masih kuliah di Bandung, pada saat menjelang liburan panjang kuliah, temanku IRS dan DDI mengajak jalan-jalan (berlibur). Kemana kek, kata mereka. Kepikiran untuk bermain-main ke pantai, dan akhirnya terpilihlah Pantai Pangandaran di Ciamis yang terkenal itu.

 

Pangandaran bukan tempat yang asing bagiku, yang orang Bandung, karena sudah agak sering pergi ke sana. Tapi bagi teman-teman tentu merupakan hal yang baru. Pangandaran memang cukup terkenal sebagai pantai wisata di Jawa Barat. Sebenarnya, menurutku, pantai Pangandaran cukup indah dan sangat berpotensi karena pantainya yang panjang dan rata, hampir-hampir seperti pantai Kuta di Bali atau pantai Pattaya di Thailand. Tetapi kedua tempat yang kusebut terakhir lebih tertata dan terintegrasi dengan sarana dan prasarana wisata lainnya. Berbeda dengan pantai Pangandaran yang terkesan belum ditata dan masih seadanya (entah sekarang di tahun 2008).

 

Setelah melakukan perencanaan yang cukup matang, maksudnya berapa lama akan mengambil liburan, hari apa saja, berapa uang bekal minimal yang harus dibawa, bawa apa saja, termasuk naik kendaraan apa untuk menuju sana, akhirnya dengan segala pertimbangan dari para calon insinyur Indonesia ini memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api, karena selain lebih murah, juga lebih mudah. Biaya murah, menjadi konsen kami para mahasiswa yang bermodal cekak. :D Sebab konon katanya, dari stasion kereta Ciamis bisa langsung naik kendaraan umum menuju pantai Pangandaran.

 

Singkat cerita, kami berada di stasion kereta api Bandung yang berada pada ketinggian +629 meter di atas permukaan laut lengkap dengan ransel kuliah yang dialihfungsikan menjadi backpack selayaknya para backpacker asing yang berwisata ke tanah air ini.

 

Persisnya lupa, waktu itu naik kereta kelas bisnis atau ekonomi, tapi kalau mengingat suasana di dalam kereta, rasanya naik kelas ekonomi (eufeumisme? :D ). Kami membeli tiga lembar karcis di loket dan kemudian segera pergi menuju kereta. Tapi…..ketika kami bertemu dengan seorang bapak (muda) yang akan menaiki kereta yang sama, dia menanyakan apakah kita dapat tempat duduk? Bagi kami yang baru pertama kali akan naik kereta api, tentu pertanyaan semacam ini cukup membingungkan, karena apa yang ada di pikiran kami, jika membeli karcis kereta berarti secara otomatis kita mendapatkan tempat duduk alias kursi di kereta. Ternyata tidak demikian kata si bapak muda itu, coba aja minta ke loket sebelahnya katanya, sebab – benar juga pendapatnya – pada kenyataannya kita tidak mendapatkan nomor kursi di karcis tersebut, seperti yang ditunjukkan tiketnya.

 

Serta merta aku sebagai perwakilan yang merangkap pimpinan tour pergi menuju loket yang dimaksud, yang terletak di samping loket antrian. De depan loket aku langsung berkata pada pak petugas dengan polosnya, “Pak, tadi aku beli tiket kereta ke Ciamis tiga buah, tapi kok gak ada tempat duduknya ya?” Entah apa yang terpikir di benak si bapak itu, apakah tersihir atau bingung, dengan spontan dia menjawab, “Oiya dek, gak mungkin kita jual tiket tanpa tempat duduk” sambil menyodorkan tiga lembaran kecil yang menunjukkan nomor tempat duduk. Dengan polosnya pula aku menerima dan sebelum pergi, sebagai mahasiswa di salah satu universitas terbaik di negeri ini, akupun mengucapkan terima kasih atas bantuannya, kemudian pergi………….begitu saja!

 

 

Singkatnya, kami sudah berada di gerbong kereta dan kami duduk di kursi sesuai nomornya. Suasana kereta ternyata hiruk pikuk dengan orang-orang yang berjejal-jejal. Kursi-kursi hampir penuh diduduki, sementara orang yang berdiripun banyak sekali sehingga lorong untuk berjalanpun tampak nyaris tidak ada celah. Seorang kuli pikul menyelinap kesulitan di sela-sela himpitan para penumpan yang kebagian tiket tapi tanpa tempat duduk. Ini adalah keherananku yang ketiga, kupikir jumlah penumpang kereta sesuai dengan jumlah kursi yang ada.

 

Seorang bapak di samping bertanya, “Wah adek dapat kursi, bayar berapa?” Ini keheranan aku yang kedua kalinya, “Emang harus bayar pak? Bukannya beli tiket itu termasuk nomor kursinya?” Aku masih tak mengerti. “Oh, nggak dek……tiket ya tiket, nomor kursi ya……harus bayar lagi, bapak beli <sekian> rupiah! Adek beli berapa?” “Wah, aku sih gak beli pak!” Dan kuceritakan kejadian tadi. Dia diam saja, mungkin dalam pikirannya diliputi berbagai hal……aku tidak tahu entah dia sedang bingung atau sedang memikirkan keluguanku. Atau mungkin sedang memikirkan petugas loket tiket kereta api yang sedang menggigit jari “kehilangan” uang tiga tempat duduk yang diambil begitu saja oleh mahasiswa lugu yang cuma tahu mengucapkan terima kasih…….tidak lebih!!! :D :D

 

Lembah Pinus, 20081225

Published in:  on December 25, 2008 at 10:04 pm Comments (1)

Maryamah Karpov

 

Setelah ditunggu-tunggu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya muncul juga novel ke-empat atau novel terakhir tetralogi karya Andre Hirata. Aku membeli ketiga buku novel Hirata sebelumnya satu hari setelah hari Natal di tahun dua ribu tujuh. Dan aku mendapatkan bukunya yang keempat di bulan Desember tahun dua ribu delapan. Berarti hampir setahun menunggu satu buku terakhir sebagai pelangkap cerita “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi” dan “Edensor”.

 

Dua hal yang membuat aku jadi membaca novel-novel Hirata. Pertama ketika Andrea Hirata tampil dalam acara di Kick Andy, diwawancara untuk buku “Laskar Pelangi”-nya yang spektakuler (menjadi best seller dalam waktu singkat). Memang acara itu sangat ampuh untuk jadi ajang promo, tetapi niatan untuk membeli dan membacanya masih kurang. Keinginan membeli menjadi sangat kuat ketika tanpa sengaja aku melihat “Sang Pemimpi” di meja teman di kantor dan aku membacanya. Khususnya waktu itu kubaca tentang perdebatan virtual sengit antara Adam Smith, ekonom kawakan dari Inggris dan John Maynard Keynes dari Amrik. Keduanya mempunyai teori dan prinsip ekonomi yang berseberangan. Yang membuat tambah seru, disela-sela perdebatan kelas dunia itu, pengarang justru menghadirkan tokoh idolanya, Kak Haji Rhoma Irama (begitu cara beliau menyebut The King of The Music of My Country), sang satria bergitar, si Raja Dangdut, yang posternya menempel di dinding kelas di sekolahnya, menghalangi pandangan dari luar karena memang dinding kelas tersebut bolong.

 

Ternyata…… memang novel-novel Hirata sangat menggugah, selain memang kupikir gaya bahasanya yang indah luar biasa. Ternyata, dia yang master di bidang Ekonomi dari Sorbonne (Prancis) dan Sheffield (Inggris) itu, pandai sekali bermain kata-kata. Ada sejumlah kata-kata di novel-novelnya yang aku highlight pakai stabillo, guna mengingatkanku di kemudian hari. Tentu saja yang paling menarik, dan khas di novel-novelnya itu, yakni perihal Teori Kegilaan.

 

Novel-nya yang keempat ternyata cukup tebal, tak kurang dari 500 halaman dia rangkai kata-kata untuk menuntaskannya. Harganya pun, amboi…….hampir 80 ribu, tapi masih lebih murah dari “Laskar Pelangi” edisi lux yang seharga 120 ribu, sedangkan yang edisi biasa (yang kubeli) hanya 60 ribu. Tapi karena rasa penasaran, tentu saja, harga menjadi tidak masalah. Bahkan aku sebenarnya tidak tahu kalau novel tersebut sudah terbit. Kebetulan saja aku, karena sudah begitu lama tidak melongok-longok toko buku Gramedia Matraman, aku pergi ke sana. Di depan pintu masuk tampak poster promosi “Maryamah Karpov”, novel Hirata yang keempat itu. Begitu melihat sepintas lalu, pikiranku langsung dipenuhi dengan keinginan untuk segera membacanya. Aku seperti merindukan seorang kekasih yang telah lama hilang. :D

 

Seorang teman bertanya, berapa lama novel itu akan dihabiskan (dibaca). Kubilang satu minggu, padahal aku menyelesaikannya tidak kurang dari tiga hari saja. Kecepatan membaca memang terjadi ketika isi buku tersebut menarik dan bahasanya tidak sulit untuk dicerna (gaya bahasa yang menarik). Apalagi ditambah dengan kerinduan yang dalam karena penantian yang cukup lama.

 

Dari dulu, aku berpikir dan bertanya-tanya tentang Maryamah Karpov, siapa dia yang dijadikan judul dari novel Hirata yang keempat ini. Aku coba lihat daftar isinya, tak satupun dari “mozaik”-nya yang berjudul Maryamah Karpov, sebab biasanya dia menjadikan salah satu bagian ceritanya untuk judul novel-nya, “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi” dan “Edensor”. Bagiku cukup aneh. Sebuah penyimpangan? Di novel-nya yang inipun ada judul kecil “Mimpi-mimpi Lintang”.

 

Aku coba membacanya dengan kecepatan tinggi. Dan ternyata baru menemukan nama Maryamah di halaman 240, mak cik Maryamah yang suka mengajarkan langkah-langkah catur (grand master kenamaan Rusia) Karpov. Konon katanya, orang Melayu sangat suka memberikan nama panggilan, yang kadang-kadang tidak mengenakan. Hirata disebut si Ikal karena rambutnya yang keriting. Adapun secara persis nama Maryamah Karpov ditulis pada halaman 274. Di tempat lain (aku lupa menandainya), ada pula ditulis nama Maryamah (saja), tanpa embel-embel Karpov. Hanya di tiga kesempatan itu nama mak cik Maryamah disebutkan. Dan sama sekali tidak ada deskripsi khusus tentang beliau, selain hanya sebagai orang yang suka mengajarkan langkah-langkah catur Karpov dan ibunda dari Nuri, sang violist cantik yang menjadi hiasan pada cover di novel ini. Tidak lebih dari itu, tapi mengapa “Maryamah Karpov”, justru jadi judul dari novel ini?

 

Kalaulah aku harus memilih, maka aku lebih setuju judul “Mimpi-mimpi Lintang” yang dikedepankan, atau menjadi satu-satunya judul. Sebab, “Mimpi-mimpi Lintang” yang ternyata merupakan nama perahu asteriod karya disain teman sebangku Ikal, Lintang yang selalu menginspirasinya. Si jenius, anak nelayan miskin yang sempat mengalahkan teori-teori fisikanya guru Fisika sekolah PN Timah yang berasal dari Jakarta, master di bidangnya. Lintang yang selalu saja ada ide di saat-saat pikiran buntu. Lintang yang sempat jadi sopir truk pelabuhan yang kemudian menjadi juragan dan memiliki sejumlah perahu. Lintang yang selalu penuh perhitungan dan melakukannya secara sangat-sangat akurat.

 

Dalam novelnya yang keempat ini, “Mimpi-mimpi Lintang”-lah yang telah membawa Hirata menemui “kekasih sejati”-nya A Ling, perempuan Ho Pho yang dipuja-pujanya itu, yang konon katanya kecantikan A Ling bakal meruntuhkan teori kecantikan saat ini. Dan orang-orang bakal mendefinisikan ulang makna dari sebuah kecantikan wanita yang mengharuskan mata belo sebagai salah satu syaratnya.

 

Walaupun akhirnya dalam ending dari novel-nya yang terakhir ini, Hirata gagal mendapatkan ijin sang ayah yang sangat pendiam untuk meminang sang pujaan hati yang telah dicari-cari sampai ke ujung dunia sekalipun, ke selatan Prancis, ke Taiga Siberia di pelosok Rusia, atau pedalaman Zaire di tengah-tengah benua Afrika. Dan akhirnya ditemukan di Pulau Kuburan yang terkenal angker. Ayahnya yang pendiam itu, tanpa harus mengungkapkannya dengan kata-kata, mengisyaratkan TIDAK atas niatan Hirata untuk melamar A Ling, yang jari-jemari lentiknya tidak akan pernah terlupakan! “Matanya kosong, wajahnya pias, aku tahu makna wajah Ayah, bahwa ia mengatakan tidak.” Dan karenanya…………….. “Aku terkulai”.

 

A Ling adalah “Mimpi-mimpi Hirata” dan untuk menemukan mimpi-mimpi-nya yang telah lama hilang itu, “Mimpi-mimpi Lintang”-lah yang telah berhasil mempertemukan keduanya. Keukeuh “Mimpi-mimpi Lintang” bagiku lebih tepat untuk menjadi judul novel Hirata yang terakhir ini!! :D Tapi, barangkali inilah Teori Kegilaan Hirata yang kesekian, yang mana aturan-aturan yang umum tidak bisa menghalangi kreativitas dalam membuat sebuah novel, termasuk menentukan judulnya. :D

 

Apapun, keempat novel Hirata telah benar-benar menginspirasi!

 

Lembah Pinus, 20081225

Published in:  on at 10:01 pm Leave a Comment

Kata Bertuah

Para sufi mengatakan, “Ada dua dosa yang mematikan, (yakni) kemalasan dan rasa takut” (The Invisible Way, Reshad Feild)

Published in:  on December 21, 2008 at 3:58 pm Leave a Comment

Kaya Karena Sedekah

Buku dengan judul ini memang telah membuatku penasaran. Sebenarnya, topiknya bukanlah yang pertama aku lihat atau tahu. Karena tema seperti ini menjadi andalannya atau “trade mark” dari dakwahnya Ustadz Yusuf Mansyur. Atau memang kata beliau, di kalangan ulama di Betawi (dari lingkungan dimana beliau berasal), ada dikenal para “ulama shadaqah”. Mereka adalah para ulama yang sangat mempercayai “the power of Shadaqah”, dimana dengan bershadaqah sama sekali tidak merugikan, bahkan akan berbuah positif yang berlipat-lipat. Makanya, beliau selalu menekankan pada ummatnya untuk bershadaqah, bershadaqah dan bershadaqah.

Dalam setiap ceramah atau buku-bukunya banyak diurai contoh bagaimana shadaqah “menguntungkan” para pelakunya. Beliau sering mengingatkan janji Allah bahwa setiap kali kita bersedekah, maka akan dibalas 10 kali lipat. Dengan demikian, formula shadaqah yang sering dia ajukan adalah, jika kita punya harta 10 satuan, kemudian dishadaqahkan sebanyak satu satuan, maka harta kita akan menjadi 19 satuan (bukan 9 satuan). Artinya, satu yang dishadaqahkan akan berlipat menjadi 10 satuan ditambah sisanya yang Sembilan, menjadi 19 satuan. Karenanya, dengan bershadaqah alih-alih harta kita berkurang malah bertambah dengan berlipat-lipat. Selain dijelaskan bahwa shadaqah bisa menolak bala (bencana), maka simpulnya bahwa bershadaqah menjadikan kita kaya. Kayak karena shadaqah. Boleh jadi, kita tidak pernah kaya (baca: harta bertambah dari waktu ke waktu) dikarena kita sendiri yang “malas” bershadaqah.

Di sini barangkali beradu antara pemikiran matematis materialis dengan pemikiran agama. Secara matematis, jelas bahwa dengan mengeluarkan sebagian harta kita, maka jumlahnya bakal berkurang dan kalaupun ada harta yang masuk tidak dikaitkan dengan upaya kita mengerluarkannya. Berbeda dengan pemikiran agama (Islam) dimana semuanya saling terkait. Apa yang kita dapat, bisa jadi sebenarnya adalah karena apa yang kita keluarkan sebelumnya. Apalagi ditunjang dengan ayat Quran yang mengatakan bahwa adanya “rejeki yang (datang) tidak disangka-sangka”. Wallahu ‘alam.

Adapun judul buku di atas bukanlah karangan Ustadz Yusuf Mansyur. Itu adalah buku tipis yang ditulis oleh seorang ulama muda yang mana aku tidak mengetahui reputasi. Tapi bukankah kita jangan melihat dari siapa yang berbicara tapi apa isi yang dibicarakan. Ataupun dengan istilah yang terkenal saat ini yakni “Don’t judge a book from its cover!”. Whatever lah, yang jelas buku itu telah mengusik pikiranku untuk memilikinya dari penjual buku di samping mesjid Telkom Bandung, dan kemudian membacanya.

Karena sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui isinya, maka malam itu sepulang kerja, di tempat kosanku aku baca buku itu sampai habis. Lagipula jumlah halaman dari buku itu tidak terlalu tebal. Lengkaplah sudah kecepatanku membaca meraih poin maksimal karena isinya yang membuat penasaran dan halamannya tipis. Kecepatan bacaku waktu itu kurang lebih sama dengan kecepatan waktu membaca buku “Usman bin Affan”, karya Muhammad Hussein Haekal, yang hanya berhalaman sekitar 150. Buku yang dibeli beberapa puluh ribu itu selesai dalam waktu yang singkat. Alhamdulillah!!

Pagi-pagi seperti biasa, aku berangkat kerja di proyek Telkom Bandung, di ruang ISC lantai 4. Entah mungkin karena bacaanku semalam, rasanya pagi itu pikiran sangat jernih, walaupun kondisi proyek cukup memusingkan. Udara cerah seakan menggambarkan pikiranku pagi itu. Selesai mandi dan berdandan akupun pergi berangkat.

Memasuki gerbang gedung Telkom, seperti biasa melewati pos satpam dengan pemandangan hilir mudik para pegawai Telkom ataupun mitra kerja yang baru datang atau mungkin juga hendak pergi karena ada acara di luar kota. Udara Bandung memang masih segar dibandingkan Jakarta, pantas kalau banyak orang betah bekerja dan tinggal di sini. Kata seorang teman, “Di Bandung mah suasananya tidak ‘riweuh’ seperti di Jakarta”. Aku tidak tahu apakah ungkapan “riweuh” ini tepat atau tidak.

Sama halnya dengan “salah kaprah”-nya ungkapan “jomblo” yang saat ini sering digunakan. Kupikir istilah ini diambil dari bahasa Sunda. Setahuku istilah jomblo (atau mungkin penulisan yang benar “jomlo”, tanpa huruf “b”) diarahkan pada seorang perawan tua yang masih belum menikah juga. Menyedihkan memang!! Tapi istilah itu sekarang diartikan sebagai seorang yang berstatus “single”, entah laki atau perempuan, baik perawan ataupun janda. Mungkin ini yang dimaksud dengan “gaya bahasa” yang mengembang. Istilahnya apa ya? Yang jelas kalau “gaya bahasa” menyempit istilahnya “peyoratif”, seperti sarjana (dari sajjana) yang dulunya berarti para ilmuwan (ahli ilmu) yang pinter-pinter, tetapi sekarang diartikan sebagai seseorang yang telah menamatkan pendidikannya dari jenjang tertentu (strata 1). Ya…. Bahasa memang hidup dan bertumbuh!

Ketika sedang asyik pikiranku melayang kemana-mana, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada seorang bapak (mungkin usianya beberapa tahun di atasku) beserta anaknya menghampiriku. Dengan gayanya yang (sok) akrab, dia menyapaku dan katanya dia baru saja dari lantai 2 (mesjid) mau menemui bapak fulan. Tetapi karena yang bersangkutan tidak ada (padahal sudah janji), maka dia gagal meminjam uang untuk ongkos pulang ke Jakarta. Karenanya, dengan permohonan sopannya dia berharap agar aku bisa meminjamkan uang sebesar 30 ribu rupiah untuk ongkos pulang ke Jakarta.

Aku tidak merasa terhipnotis dengan dia. Dan kebetulannya, di dompetku lagi banyak duit, karena belum lama ini aku mengambil sejumlah cash dari ATM. Aku percaya saja dengan orang itu (menghindari negative thinking), lagipula konsep sedekah yang kubaca semalam kan bisa diterapkan pagi ini juga. Jadi kalau aku memberikan 30 ribu rupiah, maka akan kembali dalam jumlah 300 ribu rupiah! :D Kupikir-pikir, beribadah kok perhitungan juga ya?!

Singkat cerita aku membuka dompet. Memang dari dalamnya tampak tersembul uang 50 ribuan yang cukup banyak sehingga membuat dompetku menebal. Entah apa yang ada di pikiran orang itu, dengan tiba-tiba dia malah meminta lebih. Dia sekarang meminta 50 ribu rupiah dengan alasan bahwa uang lebihnya 20 ribu akan dipakai untuk makan bersama anaknya di perjalanan. “Siapa tahu, anak saya di jalan mau makan!” begitulah kira-kira kata-katanya.

Sebenarnya ada rasa kesal dan ingin memarahi orang itu. Maksudnya, ada yang mau memberi uang 30 ribu untuk ongkos pulang saja, harusnya sudah bersyukur. Ini mah malah minta lebih!

Pikiranku terusik dan mulai meragukan kebenaran pengakuan orang itu yang meminjam uang untuk ongkos pulang. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah aku telah memberikan shadaqah untuk orang yang mau pulang ke Jakarta bersama anaknya, atau aku sedang tertipu.

Lagi-lagi, ide-ide di buku telah membantuku dalam mengambil keputusan. Karena katanya (ditulis di buku itu), bagi kalangan ahli sufi, mereka sangat bergembira ketika kedatangan para pengemis (entah mengemis karena miskin atau “profesi”). Bahkan mereka tidak memikirkan niatan para pengemis itu, disambutnya dan diberikan sedekah dengan harta yang mereka miliki. Istilahnya, buat mereka, “surga yang datang menghampiri”. Barangkali karena kisah ini pulalah yang mendorongku untuk membuang rasa kesal tadi. Apapun-lah motivasi dia, siapa tahu ini adalah “surga yang datang menghampiri”. :D

Terus terang, waktu itu di pikiran ini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, kecurigaan-kecurigaan, kekhawatiran sedang dalam keadaan tertipu, dan seterusnya. Aku pun jadi berpikir, jangan-jangan Tuhan sedang mengujiku, apa bener keinginan untuk mengetahui “kaya karena shadaqah” ini bisa aku amalkan, atau aku hanya seseorang yang ingin mengetahui cerita ini saja. Karena di dalam ajaran Islam, jelas-jelas Allah sangat murka kepada orang yang bisanya hanya ngomong tanpa pernah mengamalkannya. “(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS Ash-Shaff : 3). Ayat yang selalu aku ingat dan aku takut karenanya. Tapi mungkin aku banyak melanggarnya, karena terlalu banyak beromong, beride dan berteori tapi tidak mempratekannya atau mengamalkannya. Na’udzubillah min dzalik!

Ya….jangan-jangan Allah sedang mengujiku, karena aku terlalu ingin tahu tentang urusan ini. Seperti seorang murid shaolin yang baru mengetahui sebuah jurus silat, kemudian untuk menguji apakah dia sudah memahami jurus tersebut, maka sang suhu pun mengujinya. Ataukah sebenarnya aku sedang tertipu!! Wallahu ‘alam! Akhirnya, kupikir apapun yang terjadi biarkanlah terjadi. Apalah artinya harta yang kita miliki, toh itu hanya klaim kita selagi hidup, dan semua status kepemilikan itu hilang begitu saja ketika kita mati. Dan siapa yang bisa menghindari kematian itu?!

Aku tidak mau memikirkannya lagi, atau aku tidak mau dipusingkan karena persoalan “kecil” seperti ini. Bukankah pekerjaan yang lebih besar masih banyak menanti. 

Setelah (dengan muka gembira) menerima selembar uang 50 ribu berwarna biru bergambar pahlawan nasional asal Bali, I Gusti Ngurah Rai, dia mengucapkan terima kasih dan masih mengatakan bahwa dia akan membayarnya kemudian dan meminta nomor hp-ku, kemudian dia pun memperlihatkan KTP-nya. Sepintas aku melihat ada kata-kata “Rawa Buaya”, mungkin orang itu tinggal di Rawa Buaya Buaya, Jakarta. Aku mengakhiri pertemuan ini dengan kata-kata, “Tidak usah (dibayar), ambil sajalah!”.

Hari yang aneh!!!!

Lembah Pinus, 28 November 2008

Published in:  on November 28, 2008 at 4:22 pm Comments (1)

Sepuluh Pelukis Ternama Indonesia

Banyak hal yang tidak disangka-sangka dalam hidup ini. Jadi bener memang, kalau masa depan atau hari esok itu adalah hal yang “ghaib” (gelap). Contoh yang tidak pernah diduga dalam hidupku adalah ketika suatu pagi (menjelang pergi ke kantor), tiba-tiba ada tetangga datang dan menanyakan tugas anaknya (sekolah SD), tentang 10 pelukis ternama di Indonesia. Sama sekali tidak pernah terpikir di benakku untuk mendapatkan pertanyaan semacam itu. Kata ibu (tetangga) itu, dia tahunya cuma “Basuki Abdullah”. Orang rumah (ibu dan adikku) tahunya cuma “Affandi”. Wah, berarti masih ada 8 nama pelukis ternama Indonesia yang harus aku cari!

Aku jadi berpikir bahwa betapa tidak mudahnya menjadi orang tua. Bukan cuma memberi makan, memberikan pakaian, tapi harus dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini dari anaknya. Mungkin untuk “share” kepusingan itu, si ibu bertanya kepadaku. Tidak tahu apa alasannya, karena aku pun bukan pengamat seni….:D Terpikir waktu itu untuk cari di Internet, tapi karena notebook-ku bermasalah, maka “ide brilian” itu pupus sudah. Andaikan bisa connect ke Internet harusnya pertanyaan PR anak itu bukan masalah.

Masalahnya, aku ditungguin si ibu karena pagi ini PR anaknya mau dikumpul.

raden_salehAkhirnya, dengan segala kemampuan, aku mengingat-ingat para pelukis kesohor dari negeri tercinta ini. Yang pertama-tama kuingat, sudah pasti (1) Raden Saleh, pelukis kenamaan kita yang malang melintang di Eropa. Dikatakan dia sebagai pelukis Melayu yang fasih dengan teknik-teknik melukis Eropa. Sepertinya Raden Saleh menempati peringkat pertama untuk urusan lukis-melukis di negeri ini. Salah satu kisah yang kuingat, ketika para pelukis Belanda bangga karena lukisan bunganya bisa mengecoh kupu-kupu yang mau hinggap di lukisannya, karena dikiranya sekuntum bunga betulan. Tidak terima dengan keangkuhan mereka, maka Raden Saleh pun pulang. Ketika teman-teman pelukis-nya menyusulnya ke rumahnya, mereka kaget karena melihat Raden Saleh sedang tergeletak bersimpuh darah. Namun setelah didekati, ternyata itu hanya sebuah lukis karya Raden Saleh. Karuan saja, Raden Saleh merasa “senang” sambil berkata pada teman-temannya itu, “Jangankan kupu-kupu, orang-orang pun bisa tertipu karena lukisanku”. Pokoknya top deh Raden Saleh mah, jadi patut sekali diingat!!

Yang kedua dan ketiga (2&3), tentu saja aku ingat kedua pelukis yang telah disebut di atas. Affandi dan Basuki Abdullah sepertinya dua pelukis kita yang paling kesohor di jaman sekarang (karena Raden Saleh hidup di jaman Belanda dulu). Nyatanya, setiap kutanya kepada teman-temanku, “Siapa pelukis kita yang terkenal?” minta disebut beberapa nama, paling-paling jawabnya salah satu diantara keduanya atau kedua-duanya. Wah sedih juga ya jadi pelukis di negeri ini, gak dikenali oleh masyarakatnya.

Siapa yang tidak kenal Affandi, seniman asal Jogjakarta ini (sebenarnya asal-usulnya dari Cirebon terus mukim di Jogjakarta(?)). Aku pernah melihat (sambil lewat) bangunan musium lukisnya yang ada di Kali Code, Jogjakarta. Sewaktu muda konon beliau pernah mangkal juga di jalan Braga (Bandung). Walaupun akhirnya menganut aliran ekspressionisme, dulunya pelukis realis juga. Aku paling tidak mengerti dengan aliran ekspressionisme ini, dan mungkin hanya bener-bener penggemar seni lukis yang bisa menikmatinya. Tapi Affandi, memang sangat terkenal bukan cuma di Indonesia tapi juga di dunia. Konon suatu waktu dia mendapat beasiswa untuk menimba ilmu seni lukis di India, aLih-alih belajar tentang seni lukis, malah disuruh ngajar. Yang aku suka, juga adalah kesederhanaan sang maestro. Beliau masih saja suka makan di pinggir jalan, walaupun secara material sudah sangat cukup. Pernah suatu waktu (di masa tuanya), Affandi dengan sabarnya menunggu pohon jambu (?) berbuah. Dan setelah berbuah dia melukis pohon tersebut beserta buahnya. Dia melukis dengan jari-jari tangannya, tanpa kuas. Ketika wartawan bertanya, “Kenapa tidak menggunakan kuas?” Jawabnya, “Tangan saya lebih halus daripada kuas!” Ya, begitulah sedikit potret sang maestro yang kuketahui. Jadi, aku harus mengingatnya!

affandi-basuki-kartikaYang paling aku ingat dari seorang Basuki Abdullah adalah lukisan-lukisan realisme-nya yang indah luar biasa. Tampak seperti sebuah foto. Gaya-nya yang khas, dengan pakaian rapi dan pake topi baret serta kacamata. Rasanya sulit untuk tidak mengingat sang maestro, yang tadinya kupikir seorang muslim karena ada nama Abdullah-nya. Padahal dia adalah seorang khatolik. Sayang, hidup beliau berakhir mengenaskan. Beliau meninggal dibunuh perampok yang masuk ke rumahnya. Ketika tersiar berita ini di TV-TV, aku hampir gak percaya kalau pelukis sehebat dia akan berakhir dengan kematian yang mengenaskan.

Setelah tiga nama itu……. Lantas siapa lagi ya? Masih perlu 7 nama, untuk membantu anak tetangga yang sedang kesulitan dengan PR sekolahnya.

Maka, aku memulainya dari “lingkungan” yang dekat denganku. Dulu aku menuntut ilmu di ITB. Nah, bukankah di sana ada FRSD (Fakultas Seni Rupa & Disain)? Sebab mereka pasti bukan cuma dosen, tapi juga seniman lukis. Maka aku coba mengingat-ingat beberapa nama dan akhirnya ketemu 3 nama! Lumayan!! Berarti kurang 4 lagi.

itb-paintersYang pertama tentu saja Pak A.D. Pirous. Kalau tidak salah beliau pernah menjabat sebagai dekan FRSD. Yang terkesan bagiku adalah tampangnya dengan jenggotnya yang khas. Sebelumnya aku tidak pernah tahu, nama “A.D.” itu singkatan dari apa, karena memang hampir selalu disingkat. Setelah tahu ternyata A = Abdoel D = Djalil. Jadi nama lengkap beliau adalah Abdoel Djalil Pirous, sehingga bisa dipahami kalau beliau keturunan Aceh, mengingat namanya yang ke-arab-araban. Tapi aku masih tidak mengerti nama “Pirous” itu berasal dari bahasa apa. Pun sampai sekarang aku belum tahu lukisannya seperti apa.

Yang kedua aku ingat pak Jeihan. Aku pernah melihat lukisan-lukisan dan sketsa-sketsanya dalam acara Pasar Seni ITB di tahun 80-an. Salah satu karyanya adalah lukisan kaligrafi, sebuah kain kanvas putih dengan tulisan “IQRO”. Aku gak mengerti dimana indahnya karya seni itu. Mungkin karena aku tidak mengerti tentang seni lukis. Juga ada dijual sketsa-sketsa-nya yang ternyata berupa coret-coretan pinsil di kertas putih (mungkin ukurannya 15cmx20cm). Harganya kalau tak salah 15 ribu. Cukup mahal juga untuk ukuran saat itu. Aku pun mengenalnya dari koran-koran lokal Jawa Barat, khususnya Pikiran Rakyat, yang sering memuat kisah-kisah beliau.

Yang ketiga, dia adalah pelukis dan dosen seni rupa ITB yang masih muda. Namanya Tisna Sunjaya. Mungkin gaya lukisannya kontemporer, pokoknya agak sulit dicerna oleh orang-orang yang awam seni seperti diriku. Saat ini beliau menjadi host di dalam acara “Kabayan Nyintreuk” di salah satu TV swasta di Bandung. Menurutku itu acara yang bagus, yang mencoba mengkritisi masalah-masalah sosial di kota Bandung. Di dalam acara tersebut, dengan pakaian ala si Kabayan (pakaian serba hitam, kopeah dan sarung poleng) beliau sering mendemokan keahlian melukisnya.

Kurang 4 nama…..!!!

Karena aku pernah menyebut Affandi, tentu aku harus menyebut putri beliau yang menjadi pelukis ternama juga. Namanya Kartika. Sebut saja Kartika Affandi. Begitulah nama populernya. Aku tidak tahu ibu Kartika itu anak Affandi dari yang mana, mungkin dari yang muda, sebab setahuku Affandi mempunyai dua orang istri. Kupikir Kartika, seterkenal Affandi juga!

Tiga lagi……?!

Kucoba mengingat-ingat nama-nama pelukis kenamaan Jawa Barat. Maka teringatlah nama Popo Iskandar dan Barli.

Yang kuingat dari Popo Iskandar adalah gaya lukisannya yang khas, yakni kubisme dan gambar-gambar harimau-nya. Dalam aliran kubisme, gambar mata (orang atau hewan) tidak dibuat natural, tapi dibikin dalam satu warna saja. Sepintas tampak aneh, tapi kalau melihat lukisan-lukisan macan karya Popo Iskandar, tampak indah sekali!

Barli Sasmita Winata (aku salah menyebut nama belakangnya Karta Sasmita), pelukis realisme (?) yang terkenal. Aku masih bisa membayangkan tampang “kasep”-nya sebagai orang Sunda dengan pecinya yang khas. Pernah dalam rubrik masak-memasak di koran Pikiran Rakyat ditampilkan sosok Barli. Judulnya (jangan ketawa), “Angeun kacang (merah) ala Barli”. Rupanya pak Barli sangat pandai memasak sayur angeun kacang, yang menjadi kesukaanku di masa kecil. Ada yang bilang, kalau cowok pinter masak, bisa lebih enak daripada masakan perempuan. Jangan-jangan masakan sayur “angeun kacang” ala pak Barli inipun lebih enak daripada “angen kacang” ala ibu-ibu :D Dulu aku sangat menyukai “cobek oncom” buatan bapakku dibandingkan buatan ibuku. Menurutku “cobek oncom” ala bapakku lebih punya “taste”. :D

popo-barli-dedeSatu lagi……!!!!!!
Tadinya aku hampir menyerah dengan sembilan nama. Si ibu tetangga-ku tidak mempermasalahkan dengan 9 nama, katanya “itu pun sudah lebih dari cukup”. Tapi aku masih belum puas sampai akhirnya teringat nama “Dede Eri Supria”. Aku mengenalnya karena beliau pernah membuat lukisan untuk untuk sampul kaset album “Franky Sahilatua” (aku memang penggemar Franky and Jane yang suaranya merdu-merdu). Lukisannya realis, yang menggambarkan bagaimana keluarga Wagiman tua yang sedang memandang bendungan yang telah mengaramkan kampung halamannya. “….Wagiman tua beranak liman, menggarap tanah bersama-sama…….dst” begitu sebagian dari syair lagu Franky di album itu.

Dengan demikian lengkap sudahlah sepuluh nama pelukis (yang kupikir) ternama di Indonesia. Aku coba urutkan lagi (1) Raden Saleh (2) Affandi (3) Basuki Abdullah (4) Kartika Affandi (5) Popo Iskandar (6) Barli Sasmita Winata (7) Abdoel Djalil Pirous (8) Jeihan (9) Tisna Sunjaya (10) Dede Eri Supria.

Di kantor aku masih penasaran dan melakukan googling untuk medapatkan informasi sepuluh nama pelukis ternama Indonesia. Ternyata, alhamdulillah, kesepuluh nama pelukis yang aku sebut di atas dikategorikan sebagai pelukis ternama di Indonesia, bahkan ada satu buku yang berjudul “Dari Raden Saleh sampai Dede Eri Supria”. Wah…. kok bisa ya?

Beberapa hari kemudian, ibuku bilang kalau si ibu tetangga mengucapkan terima kasih atas bantuanku. Dan katanya, cuma kertas tugas anaknya yang tidak dikembalikan kepada yang bersangkutan, sedangkan kertas tugas teman-temannya dibagikan kepada masing-masing. Ada apa dengan bapak atau ibu guru?…..:D

ISC-Telkom, Lt.4, Jl. Japati, Bandung

Published in:  on November 7, 2008 at 4:08 pm Leave a Comment

My Theme

Asyiknya nge-blog (tentu saja buat yang suka menulis), sekarang mereka sangat dimanjakan oleh banyak situs blogger di Internet yang free dan canggih. Kita tinggal menuangkan ide-ide saja. Selebihnya, seperti disain page (blog), text editor, dan banyak fitur lainnya sudah tersedia. Konon katanya, fenomena blog ini “menyisihkan” situs-situs yang dibuat sendiri.

Dulu kalau kita ingin “tampil diri” di dunia maya ini perlu mendisain sebuah web site, yang sangat mungkin tidak setiap orang bisa. Dengan demikian, jasa seorang web developer diperlukan. Tidak halnya dengan blogger, cukup sign up yang dipandu dengan wizard, dan cukup diselesaikan dalam beberapa tahap yang memakan waktu beberapa menit saja, maka jadilah “web site” kita, dengan format yang paling cocok.

Tidak mudah mendisain sebuah tampilan. Tapi di blogger, termasuk WordPress, sudah disediakan template untuk latar atau tema (theme) dari blog kita. Theme berarti isi blog kita kira-kira akan ditampilkan seperti apa? Kulihat cukup banyak di sini (WordPress) dan cukup bervariasi. Ada beberapa yang aku suka, seperti Emir, MistyLook dan The Journalist v.1.9. Yang disebut belakangan akhirnya aku pilih, karena dia tampak sederhana tapi elegan, seperti penampilan seorang jurnalis profesional, begitulah kira-kira komentarnya.

Lagi-lagi kesederhanaan hampir selalu menjadi tema yang aku pilih dalam banyak hal, termasuk dalam theme blog ini. Dan pilihanku jatuh pada The Journalist v.1.9 karya Lucian E. Marin. Bahkan aku tidak tahu siapa mr. Lucian E. Marin, tapi aku suka dengan disainnya. Anyway, thanks!

ISC-Telkom lt.4, Jl. Japati, Bandung

Published in:  on November 5, 2008 at 3:32 pm Leave a Comment

La pluie et mon futur

La pluie vue de la fenêtre
ressemble au brouillard,
je m’assieds sur la chaise
tout en travaillant avec mon ordinateur.
Mes yeux regardent dans l’écran,
mais mon cerveau erre dehors.
Je pense environ la semaine prochaine,
le mois prochain, et l’année prochaine.
Peut-être je pense à mon futur.
Il y a beaucoup d’idées dans ma tête.
Je me sens étourdi.
Je crois seulement en Dieu
au sujet de mon futur, il devrais être !

ISC-Telkom, lt.4, Jl. Japati, Bandung

Published in:  on at 3:31 pm Leave a Comment

“Hello Word!”

“Hello World!”, begitulah tulisan yang biasa dibuat pertama kali ketika belajar bahasa pemrograman komputer jaman dahulu kala, jaman aku masih kuliah di Informatika di sebuah sekolah teknik di Bandung. Tapi ketika aku bisa menulis untuk pertama kalinya di WordPress, aku menulis “Hello Word!”, akhirnya aku bisa menulis juga di blog ini. Mungkin itu maksudnya!

Harapannya, disini bisa menulis apapun yang ada di isi kepala ini, baik yang ringan-ringan ataupun yang lucu-lucu, jadi “Yang Ringan dan Yang Lucu”, kayak judul sebuah program acara di TVRI jadul. Pokoknya, hindari yang berat-berat dech, biar gak terlalu pusing, yang penting bisa menulis. :D

Boleh jadi, tulisan-tulisan dalam WordPress ini merupakan etalase diri buatku, mungkin orang lain pikir begitu pula. Paling tidak, ada pengalaman-pengalaman yang bisa dilihat-lihat orang lain (kayak lihat etalase), syukur-syukur bisa share sesuatu. Tidak ada salahnya!

muhammad-diponegoroOya, dulu pernah baca sebuah buku “Mengarang Yuk!” (kalau tak salah judulnya), karya sastrawan kita Bapak Muhammad Diponegoro. Kata beliau (kira-kira, ma’af kalau salah menyimpulkan), yang terhormat, tujuan dari menulis sudah tercapai jika kita melakukannya dengan sepenuh hati. Apapun yang kita tulis, bagaimanapun cara kita menulis, termasuk….. bagaimanapun hasilnya :D …. yang penting kita sudah merasakan bahwa ide-ide yang ada di pikiran kita tertuangkan ke dalam tulisan itu. Selebihnya, kalau ada orang yang mau baca dan suka, ya….. Alhamdulillah!

Tapi yang jelas, tampaknya tidak semua orang punya bakat menulis. Tapi pun, tak ada larangan untuk menulis, bagi orang-orang yang merasa dirinya tidak berbakat menulis, seperti diriku….!! :D

ISC – Telkom, Lt.4, Jl. Japarti, Bandung

Published in:  on at 2:50 pm Leave a Comment