Buku dengan judul ini memang telah membuatku penasaran. Sebenarnya, topiknya bukanlah yang pertama aku lihat atau tahu. Karena tema seperti ini menjadi andalannya atau “trade mark” dari dakwahnya Ustadz Yusuf Mansyur. Atau memang kata beliau, di kalangan ulama di Betawi (dari lingkungan dimana beliau berasal), ada dikenal para “ulama shadaqah”. Mereka adalah para ulama yang sangat mempercayai “the power of Shadaqah”, dimana dengan bershadaqah sama sekali tidak merugikan, bahkan akan berbuah positif yang berlipat-lipat. Makanya, beliau selalu menekankan pada ummatnya untuk bershadaqah, bershadaqah dan bershadaqah.

Dalam setiap ceramah atau buku-bukunya banyak diurai contoh bagaimana shadaqah “menguntungkan” para pelakunya. Beliau sering mengingatkan janji Allah bahwa setiap kali kita bersedekah, maka akan dibalas 10 kali lipat. Dengan demikian, formula shadaqah yang sering dia ajukan adalah, jika kita punya harta 10 satuan, kemudian dishadaqahkan sebanyak satu satuan, maka harta kita akan menjadi 19 satuan (bukan 9 satuan). Artinya, satu yang dishadaqahkan akan berlipat menjadi 10 satuan ditambah sisanya yang Sembilan, menjadi 19 satuan. Karenanya, dengan bershadaqah alih-alih harta kita berkurang malah bertambah dengan berlipat-lipat. Selain dijelaskan bahwa shadaqah bisa menolak bala (bencana), maka simpulnya bahwa bershadaqah menjadikan kita kaya. Kayak karena shadaqah. Boleh jadi, kita tidak pernah kaya (baca: harta bertambah dari waktu ke waktu) dikarena kita sendiri yang “malas” bershadaqah.

Di sini barangkali beradu antara pemikiran matematis materialis dengan pemikiran agama. Secara matematis, jelas bahwa dengan mengeluarkan sebagian harta kita, maka jumlahnya bakal berkurang dan kalaupun ada harta yang masuk tidak dikaitkan dengan upaya kita mengerluarkannya. Berbeda dengan pemikiran agama (Islam) dimana semuanya saling terkait. Apa yang kita dapat, bisa jadi sebenarnya adalah karena apa yang kita keluarkan sebelumnya. Apalagi ditunjang dengan ayat Quran yang mengatakan bahwa adanya “rejeki yang (datang) tidak disangka-sangka”. Wallahu ‘alam.

Adapun judul buku di atas bukanlah karangan Ustadz Yusuf Mansyur. Itu adalah buku tipis yang ditulis oleh seorang ulama muda yang mana aku tidak mengetahui reputasi. Tapi bukankah kita jangan melihat dari siapa yang berbicara tapi apa isi yang dibicarakan. Ataupun dengan istilah yang terkenal saat ini yakni “Don’t judge a book from its cover!”. Whatever lah, yang jelas buku itu telah mengusik pikiranku untuk memilikinya dari penjual buku di samping mesjid Telkom Bandung, dan kemudian membacanya.

Karena sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui isinya, maka malam itu sepulang kerja, di tempat kosanku aku baca buku itu sampai habis. Lagipula jumlah halaman dari buku itu tidak terlalu tebal. Lengkaplah sudah kecepatanku membaca meraih poin maksimal karena isinya yang membuat penasaran dan halamannya tipis. Kecepatan bacaku waktu itu kurang lebih sama dengan kecepatan waktu membaca buku “Usman bin Affan”, karya Muhammad Hussein Haekal, yang hanya berhalaman sekitar 150. Buku yang dibeli beberapa puluh ribu itu selesai dalam waktu yang singkat. Alhamdulillah!!

Pagi-pagi seperti biasa, aku berangkat kerja di proyek Telkom Bandung, di ruang ISC lantai 4. Entah mungkin karena bacaanku semalam, rasanya pagi itu pikiran sangat jernih, walaupun kondisi proyek cukup memusingkan. Udara cerah seakan menggambarkan pikiranku pagi itu. Selesai mandi dan berdandan akupun pergi berangkat.

Memasuki gerbang gedung Telkom, seperti biasa melewati pos satpam dengan pemandangan hilir mudik para pegawai Telkom ataupun mitra kerja yang baru datang atau mungkin juga hendak pergi karena ada acara di luar kota. Udara Bandung memang masih segar dibandingkan Jakarta, pantas kalau banyak orang betah bekerja dan tinggal di sini. Kata seorang teman, “Di Bandung mah suasananya tidak ‘riweuh’ seperti di Jakarta”. Aku tidak tahu apakah ungkapan “riweuh” ini tepat atau tidak.

Sama halnya dengan “salah kaprah”-nya ungkapan “jomblo” yang saat ini sering digunakan. Kupikir istilah ini diambil dari bahasa Sunda. Setahuku istilah jomblo (atau mungkin penulisan yang benar “jomlo”, tanpa huruf “b”) diarahkan pada seorang perawan tua yang masih belum menikah juga. Menyedihkan memang!! Tapi istilah itu sekarang diartikan sebagai seorang yang berstatus “single”, entah laki atau perempuan, baik perawan ataupun janda. Mungkin ini yang dimaksud dengan “gaya bahasa” yang mengembang. Istilahnya apa ya? Yang jelas kalau “gaya bahasa” menyempit istilahnya “peyoratif”, seperti sarjana (dari sajjana) yang dulunya berarti para ilmuwan (ahli ilmu) yang pinter-pinter, tetapi sekarang diartikan sebagai seseorang yang telah menamatkan pendidikannya dari jenjang tertentu (strata 1). Ya…. Bahasa memang hidup dan bertumbuh!

Ketika sedang asyik pikiranku melayang kemana-mana, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada seorang bapak (mungkin usianya beberapa tahun di atasku) beserta anaknya menghampiriku. Dengan gayanya yang (sok) akrab, dia menyapaku dan katanya dia baru saja dari lantai 2 (mesjid) mau menemui bapak fulan. Tetapi karena yang bersangkutan tidak ada (padahal sudah janji), maka dia gagal meminjam uang untuk ongkos pulang ke Jakarta. Karenanya, dengan permohonan sopannya dia berharap agar aku bisa meminjamkan uang sebesar 30 ribu rupiah untuk ongkos pulang ke Jakarta.

Aku tidak merasa terhipnotis dengan dia. Dan kebetulannya, di dompetku lagi banyak duit, karena belum lama ini aku mengambil sejumlah cash dari ATM. Aku percaya saja dengan orang itu (menghindari negative thinking), lagipula konsep sedekah yang kubaca semalam kan bisa diterapkan pagi ini juga. Jadi kalau aku memberikan 30 ribu rupiah, maka akan kembali dalam jumlah 300 ribu rupiah!😀 Kupikir-pikir, beribadah kok perhitungan juga ya?!

Singkat cerita aku membuka dompet. Memang dari dalamnya tampak tersembul uang 50 ribuan yang cukup banyak sehingga membuat dompetku menebal. Entah apa yang ada di pikiran orang itu, dengan tiba-tiba dia malah meminta lebih. Dia sekarang meminta 50 ribu rupiah dengan alasan bahwa uang lebihnya 20 ribu akan dipakai untuk makan bersama anaknya di perjalanan. “Siapa tahu, anak saya di jalan mau makan!” begitulah kira-kira kata-katanya.

Sebenarnya ada rasa kesal dan ingin memarahi orang itu. Maksudnya, ada yang mau memberi uang 30 ribu untuk ongkos pulang saja, harusnya sudah bersyukur. Ini mah malah minta lebih!

Pikiranku terusik dan mulai meragukan kebenaran pengakuan orang itu yang meminjam uang untuk ongkos pulang. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah aku telah memberikan shadaqah untuk orang yang mau pulang ke Jakarta bersama anaknya, atau aku sedang tertipu.

Lagi-lagi, ide-ide di buku telah membantuku dalam mengambil keputusan. Karena katanya (ditulis di buku itu), bagi kalangan ahli sufi, mereka sangat bergembira ketika kedatangan para pengemis (entah mengemis karena miskin atau “profesi”). Bahkan mereka tidak memikirkan niatan para pengemis itu, disambutnya dan diberikan sedekah dengan harta yang mereka miliki. Istilahnya, buat mereka, “surga yang datang menghampiri”. Barangkali karena kisah ini pulalah yang mendorongku untuk membuang rasa kesal tadi. Apapun-lah motivasi dia, siapa tahu ini adalah “surga yang datang menghampiri”.😀

Terus terang, waktu itu di pikiran ini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, kecurigaan-kecurigaan, kekhawatiran sedang dalam keadaan tertipu, dan seterusnya. Aku pun jadi berpikir, jangan-jangan Tuhan sedang mengujiku, apa bener keinginan untuk mengetahui “kaya karena shadaqah” ini bisa aku amalkan, atau aku hanya seseorang yang ingin mengetahui cerita ini saja. Karena di dalam ajaran Islam, jelas-jelas Allah sangat murka kepada orang yang bisanya hanya ngomong tanpa pernah mengamalkannya. “(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS Ash-Shaff : 3). Ayat yang selalu aku ingat dan aku takut karenanya. Tapi mungkin aku banyak melanggarnya, karena terlalu banyak beromong, beride dan berteori tapi tidak mempratekannya atau mengamalkannya. Na’udzubillah min dzalik!

Ya….jangan-jangan Allah sedang mengujiku, karena aku terlalu ingin tahu tentang urusan ini. Seperti seorang murid shaolin yang baru mengetahui sebuah jurus silat, kemudian untuk menguji apakah dia sudah memahami jurus tersebut, maka sang suhu pun mengujinya. Ataukah sebenarnya aku sedang tertipu!! Wallahu ‘alam! Akhirnya, kupikir apapun yang terjadi biarkanlah terjadi. Apalah artinya harta yang kita miliki, toh itu hanya klaim kita selagi hidup, dan semua status kepemilikan itu hilang begitu saja ketika kita mati. Dan siapa yang bisa menghindari kematian itu?!

Aku tidak mau memikirkannya lagi, atau aku tidak mau dipusingkan karena persoalan “kecil” seperti ini. Bukankah pekerjaan yang lebih besar masih banyak menanti.

Setelah (dengan muka gembira) menerima selembar uang 50 ribu berwarna biru bergambar pahlawan nasional asal Bali, I Gusti Ngurah Rai, dia mengucapkan terima kasih dan masih mengatakan bahwa dia akan membayarnya kemudian dan meminta nomor hp-ku, kemudian dia pun memperlihatkan KTP-nya. Sepintas aku melihat ada kata-kata “Rawa Buaya”, mungkin orang itu tinggal di Rawa Buaya Buaya, Jakarta. Aku mengakhiri pertemuan ini dengan kata-kata, “Tidak usah (dibayar), ambil sajalah!”.

Hari yang aneh!!!!

Lembah Pinus, 28 November 2008