Ceritanya di tahun 90-an awal, sewaktu masih kuliah di Bandung, pada saat menjelang liburan panjang kuliah, temanku IRS dan DDI mengajak jalan-jalan (berlibur). Kemana kek, kata mereka. Kepikiran untuk bermain-main ke pantai, dan akhirnya terpilihlah Pantai Pangandaran di Ciamis yang terkenal itu.

Pangandaran bukan tempat yang asing bagiku, yang orang Bandung, karena sudah agak sering pergi ke sana. Tapi bagi teman-teman tentu merupakan hal yang baru. Pangandaran memang cukup terkenal sebagai pantai wisata di Jawa Barat. Sebenarnya, menurutku, pantai Pangandaran cukup indah dan sangat berpotensi karena pantainya yang panjang dan rata, hampir-hampir seperti pantai Kuta di Bali atau pantai Pattaya di Thailand. Tetapi kedua tempat yang kusebut terakhir lebih tertata dan terintegrasi dengan sarana dan prasarana wisata lainnya. Berbeda dengan pantai Pangandaran yang terkesan belum ditata dan masih seadanya (entah sekarang di tahun 2008).

Setelah melakukan perencanaan yang cukup matang, maksudnya berapa lama akan mengambil liburan, hari apa saja, berapa uang bekal minimal yang harus dibawa, bawa apa saja, termasuk naik kendaraan apa untuk menuju sana, akhirnya dengan segala pertimbangan dari para calon insinyur Indonesia ini memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api, karena selain lebih murah, juga lebih mudah. Biaya murah, menjadi konsen kami para mahasiswa yang bermodal cekak.😀 Sebab konon katanya, dari stasion kereta Ciamis bisa langsung naik kendaraan umum menuju pantai Pangandaran.

Singkat cerita, kami berada di stasion kereta api Bandung yang berada pada ketinggian +629 meter di atas permukaan laut lengkap dengan ransel kuliah yang dialihfungsikan menjadi backpack selayaknya para backpacker asing yang berwisata ke tanah air ini.

Persisnya lupa, waktu itu naik kereta kelas bisnis atau ekonomi, tapi kalau mengingat suasana di dalam kereta, rasanya naik kelas ekonomi (eufeumisme? :D). Kami membeli tiga lembar karcis di loket dan kemudian segera pergi menuju kereta. Tapi…..ketika kami bertemu dengan seorang bapak (muda) yang akan menaiki kereta yang sama, dia menanyakan apakah kita dapat tempat duduk? Bagi kami yang baru pertama kali akan naik kereta api, tentu pertanyaan semacam ini cukup membingungkan, karena apa yang ada di pikiran kami, jika membeli karcis kereta berarti secara otomatis kita mendapatkan tempat duduk alias kursi di kereta. Ternyata tidak demikian kata si bapak muda itu, coba aja minta ke loket sebelahnya katanya, sebab – benar juga pendapatnya – pada kenyataannya kita tidak mendapatkan nomor kursi di karcis tersebut, seperti yang ditunjukkan tiketnya.

Serta merta aku sebagai perwakilan yang merangkap pimpinan tour pergi menuju loket yang dimaksud, yang terletak di samping loket antrian. De depan loket aku langsung berkata pada pak petugas dengan polosnya, “Pak, tadi aku beli tiket kereta ke Ciamis tiga buah, tapi kok gak ada tempat duduknya ya?” Entah apa yang terpikir di benak si bapak itu, apakah tersihir atau bingung, dengan spontan dia menjawab, “Oiya dek, gak mungkin kita jual tiket tanpa tempat duduk” sambil menyodorkan tiga lembaran kecil yang menunjukkan nomor tempat duduk. Dengan polosnya pula aku menerima dan sebelum pergi, sebagai mahasiswa di salah satu universitas terbaik di negeri ini, akupun mengucapkan terima kasih atas bantuannya, kemudian pergi………….begitu saja!

Singkatnya, kami sudah berada di gerbong kereta dan kami duduk di kursi sesuai nomornya. Suasana kereta ternyata hiruk pikuk dengan orang-orang yang berjejal-jejal. Kursi-kursi hampir penuh diduduki, sementara orang yang berdiripun banyak sekali sehingga lorong untuk berjalanpun tampak nyaris tidak ada celah. Seorang kuli pikul menyelinap kesulitan di sela-sela himpitan para penumpan yang kebagian tiket tapi tanpa tempat duduk. Ini adalah keherananku yang ketiga, kupikir jumlah penumpang kereta sesuai dengan jumlah kursi yang ada.

Seorang bapak di samping bertanya, “Wah adek dapat kursi, bayar berapa?” Ini keheranan aku yang kedua kalinya, “Emang harus bayar pak? Bukannya beli tiket itu termasuk nomor kursinya?” Aku masih tak mengerti. “Oh, nggak dek……tiket ya tiket, nomor kursi ya……harus bayar lagi, bapak beli <sekian> rupiah! Adek beli berapa?” “Wah, aku sih gak beli pak!” Dan kuceritakan kejadian tadi. Dia diam saja, mungkin dalam pikirannya diliputi berbagai hal……aku tidak tahu entah dia sedang bingung atau sedang memikirkan keluguanku. Atau mungkin sedang memikirkan petugas loket tiket kereta api yang sedang menggigit jari “kehilangan” uang tiga tempat duduk yang diambil begitu saja oleh mahasiswa lugu yang cuma tahu mengucapkan terima kasih…….tidak lebih!!!😀😀

Lembah Pinus, 20081225