Setelah ditunggu-tunggu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya muncul juga novel ke-empat atau novel terakhir tetralogi karya Andre Hirata. Aku membeli ketiga buku novel Hirata sebelumnya satu hari setelah hari Natal di tahun dua ribu tujuh. Dan aku mendapatkan bukunya yang keempat di bulan Desember tahun dua ribu delapan. Berarti hampir setahun menunggu satu buku terakhir sebagai pelangkap cerita “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi” dan “Edensor”.

Dua hal yang membuat aku jadi membaca novel-novel Hirata. Pertama ketika Andrea Hirata tampil dalam acara di Kick Andy, diwawancara untuk buku “Laskar Pelangi”-nya yang spektakuler (menjadi best seller dalam waktu singkat). Memang acara itu sangat ampuh untuk jadi ajang promo, tetapi niatan untuk membeli dan membacanya masih kurang. Keinginan membeli menjadi sangat kuat ketika tanpa sengaja aku melihat “Sang Pemimpi” di meja teman di kantor dan aku membacanya. Khususnya waktu itu kubaca tentang perdebatan virtual sengit antara Adam Smith, ekonom kawakan dari Inggris dan John Maynard Keynes dari Amrik. Keduanya mempunyai teori dan prinsip ekonomi yang berseberangan. Yang membuat tambah seru, disela-sela perdebatan kelas dunia itu, pengarang justru menghadirkan tokoh idolanya, Kak Haji Rhoma Irama (begitu cara beliau menyebut The King of The Music of My Country), sang satria bergitar, si Raja Dangdut, yang posternya menempel di dinding kelas di sekolahnya, menghalangi pandangan dari luar karena memang dinding kelas tersebut bolong.

Ternyata…… memang novel-novel Hirata sangat menggugah, selain memang kupikir gaya bahasanya yang indah luar biasa. Ternyata, dia yang master di bidang Ekonomi dari Sorbonne (Prancis) dan Sheffield (Inggris) itu, pandai sekali bermain kata-kata. Ada sejumlah kata-kata di novel-novelnya yang aku highlight pakai stabillo, guna mengingatkanku di kemudian hari. Tentu saja yang paling menarik, dan khas di novel-novelnya itu, yakni perihal Teori Kegilaan.

Novel-nya yang keempat ternyata cukup tebal, tak kurang dari 500 halaman dia rangkai kata-kata untuk menuntaskannya. Harganya pun, amboi…….hampir 80 ribu, tapi masih lebih murah dari “Laskar Pelangi” edisi lux yang seharga 120 ribu, sedangkan yang edisi biasa (yang kubeli) hanya 60 ribu. Tapi karena rasa penasaran, tentu saja, harga menjadi tidak masalah. Bahkan aku sebenarnya tidak tahu kalau novel tersebut sudah terbit. Kebetulan saja aku, karena sudah begitu lama tidak melongok-longok toko buku Gramedia Matraman, aku pergi ke sana. Di depan pintu masuk tampak poster promosi “Maryamah Karpov”, novel Hirata yang keempat itu. Begitu melihat sepintas lalu, pikiranku langsung dipenuhi dengan keinginan untuk segera membacanya. Aku seperti merindukan seorang kekasih yang telah lama hilang.😀

Seorang teman bertanya, berapa lama novel itu akan dihabiskan (dibaca). Kubilang satu minggu, padahal aku menyelesaikannya tidak kurang dari tiga hari saja. Kecepatan membaca memang terjadi ketika isi buku tersebut menarik dan bahasanya tidak sulit untuk dicerna (gaya bahasa yang menarik). Apalagi ditambah dengan kerinduan yang dalam karena penantian yang cukup lama.

Dari dulu, aku berpikir dan bertanya-tanya tentang Maryamah Karpov, siapa dia yang dijadikan judul dari novel Hirata yang keempat ini. Aku coba lihat daftar isinya, tak satupun dari “mozaik”-nya yang berjudul Maryamah Karpov, sebab biasanya dia menjadikan salah satu bagian ceritanya untuk judul novel-nya, “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi” dan “Edensor”. Bagiku cukup aneh. Sebuah penyimpangan? Di novel-nya yang inipun ada judul kecil “Mimpi-mimpi Lintang”.

Aku coba membacanya dengan kecepatan tinggi. Dan ternyata baru menemukan nama Maryamah di halaman 240, mak cik Maryamah yang suka mengajarkan langkah-langkah catur (grand master kenamaan Rusia) Karpov. Konon katanya, orang Melayu sangat suka memberikan nama panggilan, yang kadang-kadang tidak mengenakan. Hirata disebut si Ikal karena rambutnya yang keriting. Adapun secara persis nama Maryamah Karpov ditulis pada halaman 274. Di tempat lain (aku lupa menandainya), ada pula ditulis nama Maryamah (saja), tanpa embel-embel Karpov. Hanya di tiga kesempatan itu nama mak cik Maryamah disebutkan. Dan sama sekali tidak ada deskripsi khusus tentang beliau, selain hanya sebagai orang yang suka mengajarkan langkah-langkah catur Karpov dan ibunda dari Nuri, sang violist cantik yang menjadi hiasan pada cover di novel ini. Tidak lebih dari itu, tapi mengapa “Maryamah Karpov”, justru jadi judul dari novel ini?

Kalaulah aku harus memilih, maka aku lebih setuju judul “Mimpi-mimpi Lintang” yang dikedepankan, atau menjadi satu-satunya judul. Sebab, “Mimpi-mimpi Lintang” yang ternyata merupakan nama perahu asteriod karya disain teman sebangku Ikal, Lintang yang selalu menginspirasinya. Si jenius, anak nelayan miskin yang sempat mengalahkan teori-teori fisikanya guru Fisika sekolah PN Timah yang berasal dari Jakarta, master di bidangnya. Lintang yang selalu saja ada ide di saat-saat pikiran buntu. Lintang yang sempat jadi sopir truk pelabuhan yang kemudian menjadi juragan dan memiliki sejumlah perahu. Lintang yang selalu penuh perhitungan dan melakukannya secara sangat-sangat akurat.

Dalam novelnya yang keempat ini, “Mimpi-mimpi Lintang”-lah yang telah membawa Hirata menemui “kekasih sejati”-nya A Ling, perempuan Ho Pho yang dipuja-pujanya itu, yang konon katanya kecantikan A Ling bakal meruntuhkan teori kecantikan saat ini. Dan orang-orang bakal mendefinisikan ulang makna dari sebuah kecantikan wanita yang mengharuskan mata belo sebagai salah satu syaratnya.

Walaupun akhirnya dalam ending dari novel-nya yang terakhir ini, Hirata gagal mendapatkan ijin sang ayah yang sangat pendiam untuk meminang sang pujaan hati yang telah dicari-cari sampai ke ujung dunia sekalipun, ke selatan Prancis, ke Taiga Siberia di pelosok Rusia, atau pedalaman Zaire di tengah-tengah benua Afrika. Dan akhirnya ditemukan di Pulau Kuburan yang terkenal angker. Ayahnya yang pendiam itu, tanpa harus mengungkapkannya dengan kata-kata, mengisyaratkan TIDAK atas niatan Hirata untuk melamar A Ling, yang jari-jemari lentiknya tidak akan pernah terlupakan! “Matanya kosong, wajahnya pias, aku tahu makna wajah Ayah, bahwa ia mengatakan tidak.” Dan karenanya…………….. “Aku terkulai”.

A Ling adalah “Mimpi-mimpi Hirata” dan untuk menemukan mimpi-mimpi-nya yang telah lama hilang itu, “Mimpi-mimpi Lintang”-lah yang telah berhasil mempertemukan keduanya. Keukeuh “Mimpi-mimpi Lintang” bagiku lebih tepat untuk menjadi judul novel Hirata yang terakhir ini!!😀 Tapi, barangkali inilah Teori Kegilaan Hirata yang kesekian, yang mana aturan-aturan yang umum tidak bisa menghalangi kreativitas dalam membuat sebuah novel, termasuk menentukan judulnya.😀

Apapun, keempat novel Hirata telah benar-benar menginspirasi!

Lembah Pinus, 20081225