Bahasa Perancis memang unik. Saya sering bilang pada teman-teman, jangan-jangan orang yang pertama membuat bahasa Perancis ini ada adalah para seniman, sebab di dalam bahasa tersebut banyak aspek “seni”-nya. Banyak hal yang menarik yang tidak ditemukan di dalam bahasa kita, yang relatif simple. Sebagai contoh, perihal “artikel” dimana dalam bahasa Perancis, sebuah kata benda pasti dikategorikan sebagai “masculin” (=jantan, dibaca: maskulang) atau “feminin” (=betina, dibaca: feminang). Seperti kata untuk judul di atas “Tour”. Dia bisa mempunyai arti yang berbeda hanya karena artikel yang diberikan berbeda. Jika digunakan “La” (=feminin) seperti judul di atas, maka artinya menjadi “Menara”, sementara jika digunakan “Le” (=masculin), maka artinya menjadi “Kesempatan” atau “Turn” (dalam bahasa Inggris). Misal: “C’est le tour des etudiantes!” Artinya: “Sekarang saatnya kesempatan para pelajar perempuan!” Akan bingung jika kita hanya tahu potongan kalimat tanpa tahu konteksnya, misal: “votre tour”, apakah ini berarti “kesempatan anda” atau “menara milik anda”. Ya, begitulah sedikit perihal bahasa Perancis.

Sepengetahuan saya, menara Eiffel (dibaca: E-FEL dalam bahasa Perancis) dibuat oleh seorang arsitek “nyentrik” Perancis yang bernama Gustave Eiffel. Dia membikinnya dengan menyewa tanah kepada pemerintah kota Paris untuk sekian tahun (seratus tahun?). Dan setelahnya, tentu saja pemerintah kota boleh atau malah harus menghancurkannya karena memang masa sewanya sudah habis. Kurang lebih seperti iklan-iklan yang dipajang sekarang, dimana setelah masa iklannya habis, maka banner iklan tersebut harus diturunkan.

Namun karena menara ini terlalu bagus untuk dihancurkan setelah masa sewanya habis dan bahkan mungkin sudah terlanjur menjadi ikon kota Paris dan banyak orang terinspirasi, maka alih-alih dihancurkan, pemerintah kota malah membiarkan dan merawatnya.

Menara Eiffel tampak dari dekat sangat megah dengan konstruksi unik dan rumit saya pikir. Memang dia hanya tersusun dari kepingan-kepingan logam besi atau baja. Tetapi bagaimana bisa menyusun dengan ketinggian seperti itu? Sudah pasti ini harus dirancang dan dibuat oleh seorang arsitek yang sangat jenius. Konstruksinya membutuhkan presisi yang sangat tinggi. Dan orang itu bernama Alexandre Gustave Eiffel.

Tidak mudah untuk bisa menaiki menara tersebut. Perlu menunggu satu jam hanya untuk mendapatkan tiket naik menara. Untuk orang dewasa (di tiket ditandai dengan tulis “A” = Adulte) harga tiketnya: 8,5 Euro atau hampir 100 ribu Rupiah, sedangkan bukan dewasa seharga 7 Euro (hitung sendiri saja konversi Rp-nya :D), ditandai dengan huruf “J” (Jeune) di tiketnya. Meski menunggu lama, orang dari berbagai penjuru dunia tampak mengular menunggu kesempatan.

Sebenarnya kita bisa menuju puncak menara, tetapi lift hanya sampai tingkat 2, selebihnya harus naik dan turun tangga. Nah buat orang yang tidak terbiasa olah raga atau “hidup susah”, tentu ini pekerjaan yang menyengsarakan.

Dari lantai 2, kita bisa melihat seputar kota Paris yang tertata dengan rapi. Bukan saja seni arsitekturnya yang indah bergaya Eropa, Baroc & Rococo, tetapi juga tampak di tengahnya melintas “La rivière de la Seine” alias sungai Seine yang besar dan bersih. Sementara dari kejauhan tampak juga “Green Belt” yang mengelilingi kota sebagai upaya menghijaukan kota. Mungkin semacam penghasil oksigen untuk kota Paris supaya tidak pengap. Tata kotanya bagus. Yang tidak bagus dari kota Paris adalah serba mahalnya biaya di sini, termasuk biaya naik menara Eiffel.  Tapi itu menurut ukuran kita sebab di sana untuk pekerjaan jadi seniman jalanan (yang saya baca di dinding Universite de Nancy) bisa dibayar 12 € per jam-nya.

Nancy, 04 Juillet 2012

—oOo—