Saya tidak tahu mengapa acara-acara di luar course pada Summer Course di sini sering tidak dijelaskan. Sebut saja misal acara kemarin La Soirée Gala. Selain saya tidak tahu maksud acaranya, juga tidak tahu acaranya dimana dan jam berapa pelaksanaannya. Tidak tercatat dengan jelas di agenda kegiatan yang hanya selembar foto kopi.

Tidak dijelaskannya acara tersebut di agenda bisa karena dua hal. Pertama, karena panitia belum tahu persis acaranya atau belum ada persiapan yang cukup, atau juga kondisinya bisa berubah-rubah. Kedua, bisa saja disebabkan untuk membuat semacam “surprise”, jadi acara tersebut agak disembunyikan sehingga akan jadi kejutan pada saatnya. Sayangnya, saya orang yang tidak suka dengan hal-hal semacam itu, karena semua harus dipersiapkan dengan baik. Jika persoalannya sudah jelas, mengapa masih harus disembunyikan? Tapi ya sudahlah!

Saya pernah tanya ke teman kursus orang Hungaria (bapak-bapak berusia lanjut, mungkin 60-an), katanya ini acara besar. Tapi tunggu ya, saya mau ke toilet dulu katanya. Namun karena buru-buru mau ambil tiket makan siang, dan setelah makan tidak ketemu lagi, maka saya tidak pernah tahu acara yang dimaksud. Teman dari Brasil bilang, mungkin semacam ketemu Walikota Nancy dan memberikan ucapan selamat datang. Saya hanya sempat menanyakan kostum/ pakaian (tenue) yang harus dipakai apakah harus berbaju putih, karena kalau sempat lihat di undangannya ada semacam acara La Soirée Blanche. Apakah keduanya sama? Saya sempat menanyakan via SMS (supaya aman :D) perihal konstum putih ini pada Alexia Busser (salah satu animateur), dia bilang tidak perlu putih, “…… Il faut juste une tenue correcte pas obligatoirement du blanc.”

Ternyata acara yang dimaksud ada benarnya juga yang dibilang teman-teman. Ada upacara sambutan dari Pemerintah Kota setempat yang diwakili seorang ibu. Ada kalimat-kalimat yang diingat darinya, bahwa katanya beliau meminta ma’af kalau matahari di Nancy kurang hangat (padahal sedang musim panas), tapi semua itu akan digantikan dengan “kehangatan” orang-orang Nancy.

Nancy bukanlah kota besar, jadi tidak terlalu padat, atau bahkan mungkin tidak padat. Tidak ada kemacetan lalu lintas yang terlihat. Tidak banyak polusi. Bersih. Dan yang paling pokok, saya pikir, orang-orang di sini ramah-ramah. Saya tidak bayangkan ternyata orang-orang Eropa ini ramah-ramah. Guru-guru di sini, sebut saja yang mengajar saya: monsieur Allain Jullian (Kuliah tentang Press, juga direktur Summer Course), monsieur Gilles Losseroy (dosen sastra), monsieur Emmanuel Hérique (dosen Grammar) dan madame Nicole Fontanez (dosen Hukum), semuanya ramah-ramah. Dari keempat dosen itu, hanya monsieur Jullian yang kata-katanya susah ditangkap, karena ngomongnya sangat cepat, walaupun sempat dikomplen oleh seorang ibu dari Brasil, peserta kursus. Karena bahasannya sedang ke arah politik di sini sering terdengar dia mengucapkan nama Jean-Marc Ayrault (Perdana Menteri Prancis). Sebelumnya tidak nggeh, kalau ternyata dia menyebut nama tersebut “zong-ma-ke-ro” dengan cepat.

Pengendara di sini juga santun-santun. Memang di sini ada traffic light, tetapi jika tidak ada orang menyeberang, pengendara tetap akan (bisa) melintas walau lampu merah. Tetapi ajaibnya, kalau ada yang lewat, mereka akan bergerak pelan dan membiarkan pejalan kaki lewat. Kadang saya ragu, tapi saya sering lihat di sini orang pengendara dengan gerakan tangannya mempersilakan saya lewat. Sepertinya kondisinya berbeda dengan yang terjadi di negara kita. Dan ternyata orang Nancy yang gagah-gagah dan cantik-cantik memang sangat ramah.

Sepertinya penyelenggaraan Summer Course ini sangat membanggakan untuk Universitas Nancy 2, terutama monsieur Jullian, yang tidak saja berhasil mengundang para peserta dari daratan Eropa tetapi juga dari seluruh dunia. Peserta dari seluruh benua hadir di sini. Hongkong datang dengan peserta terbanyak, yakni 40 orang, disusul Indonesia 30 peserta. Juga datang dari Brasil, USA, Kanada, Mesir dan Australia. Dari daratan Eropa sendiri, yang saya ingat, datang dari Inggris, Norwegia, Denmark, Spanyol, Hungaria, Italia, Yunani, Siprus, Rusia, dan Ukraina.

Gaya keramahan aristokrat jamannya Raja Stanislas (yang sebenarnya keturunan Polandia) diperlihatkan di sini. Acara dibuat seolah-olah kami adalah para undangan raja yang siap dijamu makan oleh Raja Stanislas. Seorang bapak memerankan Raja Stanislas. Sementara keluarga dan kerabat raja berpakaian jaman kerjaan di abad pertengahan dulu. Jadi seperti cerita di film-film.

Sayangnya, menunya kurang pas buat saya yang tidak terbiasa makan keju. Di sini dihidangkan keju dari berbagai daerah. Dan keju-keju ini katanya tidak dipabrikasi. Jadi lebih ke home-made begitulah! Rasanya ada yang pahit, tapi anak-anak dari Hongkong yang duduk semeja dengan saya menghabiskan banyak keju. Mungkin akan nikmat jika dikombinasikan dengan wine (anggur). Sayangnya saya tidak minum champagne karena beralkohol. Baiknya orang Nancy, mereka mengerti kalau ada yang tidak minum alkohol, maka disediakan juga air mineral. Ini adalah contoh keramahtamahan tanpa harus memaksa orang.

Tidak minumnya anggur, tidak berarti tidak menghargai keramahtamahan orang Nancy dan “Raja Stanislas”, tetapi lebih disebabkan prinsip-prinsip agama yang masih dipegang. Ketika saya tidak ada teman ngobrol, tiba-tiba monsieur Emmanuel Hérique datang dan mengajak berbincang-bincang. Sayangnya dia keburu dipanggil untuk menjadi translator, karena dia adalah salah satu orang Nancy yang pandai berbahasa Inggris.😀 (Beliau pernah tinggal lama di Kanada untuk kepentingan study)

Sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk memoto-moto “kehidupan malam” alun-alun Stanislas yang terkenal itu dan dilindungi oleh UNESCO, sebagai salah satu warisan budaya umat manusia. Saya pulang ke asrama sendirian mengambil jalan yang agak rame, melewati stasiun St. Leon, Rue Raymond Poincard, Rue Victor Hugo kemudian Rue de la Liberation. Hampir jam 11 saya jalan sendirian, ditengah dinginnya udara kota Nancy. Sepi….. Sesekali saja berpapasan dengan orang. Jalan-jalan sudah lengang. Mobil-mobil diparkir di pinggir jalan tanpa rasa takut ada yang mencuri. Alhamdulillah, saya sampai ke tujuan dengan selamat. Tidak ada yang ditakutkan di sini. Terasa aman dan nyaman. Barangkali ini adalah bentuk keramahan dan “kehangatan” yang hakiki dari kota Nancy.

Nancy, 13 Juillet 2012 (Last update: Jl. Bali-Bandung, 2013/02/02)

—oOo—