Pernahkah berpikir untuk mencari alat ukur tingkat polusi udara di suatu tempat? suatu kota? Dulu saya lihat di stasion Gambir ada alat yang mencatat tingkat kadar zat-zat tertentu di udara. Zat-zat yang menunjukkan tingkat polusi udara. Sebuah alat yang canggih.

Tetapi tanpa alat yang canggih saya menemukan alat sederhana mengukur tingkat polusi udara. Tepatnya alat itu disebut cutton bud. Sebuah batang kecil yang terbuat (biasanya) dari plastik dimana dikedua ujungnya ada buntalan kapas. Kebiasan membersihkan lubang telinga dan lubang hidung ini dikarenakan debu dan polusi udara di kota dimana saya bekerja, yakni kota Jakarta. Setiap hari saya membersihkan lubang hidung dan telinga. Hasilnya: KOTOR.

Karena sudah menjadi kebiasaan, maka kemanapun saya pergi, saya selalu membawanya. Ke Kuala Lumpur, ke Mekkah & Madinah, termasuk ke Nancy. Hasilnya, di KL udara cukup bersih, Makkah dan Madinah pun begitu. Apalagi kota Nancy yang memang hijau permai, dan udaranya segara. Bersih sekali. Persoalannya, tidakkah hal kecil ini terpikirkan oleh pemerintah daerah setempat? Yang katanya ahli dalam menata kota ini? Seperti persoalan kecil, persoalan polusi udara, tetapi saya yakin dampaknya akan sangat besar terhadap kesehatan penduduk dan lain-lainnya. Jika banyak penduduk Jakarta sakit karena polusi udara, berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan, belum lagi jika dampak polusi ini pada hal-hal lainnya. Lengkaplah sudah penderitaan.

Dari hal kecil, hendaklah kita banyak belajar. Bukankah Tuhan pun di dalam kitab suci mengajarkan kepada kita dengan hal-hal yang tampak sepele? Lebah, nyamuk, dst.

Nancy, 14 Juillet 2012

—oOo—