Kalau kata Pak Rus (nama lengkapnya apa ya?), guru bahasa Perancis labschool Jakarta, yang kebetulan mendapat kamar yang sama di hotel Saint Malo, yang membawa rombongannya di Summer Course ini juga, walau hanya seminggu, bahwa “Mont” adalah singkatan dari “montagne” alias gunung atau bukit barangkali (karena ukurannya tidak terlalu besar). Bisa dipahami karena Mont St Michel ini dari kejauhan tampak seperti bukit yang dibikin di atasnya bangunan-bangunan. Jadilah bukit berbangunan dan bukan bukit berbunga.🙂

Dari tempat parkir untuk mencapai ke sana, cukup jauh, yakni sekitar 2 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki ataupun naik navette, bis (listrik?) yang disediakan untuk pengunjung. Baik naik navette atau naik kaki keduanya gratis. Saya tidak tahu mengapa, walaupun ada navette yang gratis orang-orang sini lebih suka berjalan kaki untuk sampai ke tujuan. Apa mungkin sambil berolahraga untuk menghangatkan badan? Tanpa terasa hidup kita jadi sehat. Saya pun tidak tahu, mengapa navette bisa gratis! Ini adalah contoh pengelolaan tempat wisata yang baik.

Saya pun termasuk yang menyempatkan diri berjalan kaki menuju lokasi. Tetapi pulangnya naik navette.😀 Saya sempat beberapa kali di titik tertentu memoto Mont Saint Michel. Tampak sekelompok bangunan dengan bangunan di puncak, gereja yang sangat besar. Bangunan ini tampak lebih mirip seperti benteng pertahanan. Dan di atas bukit ini bukan hanya ada gereja, tetapi ini lebih mirip sebuah desa kecil dalam satu bukit dengan bangunan utama gereja yang berada di puncak bukit.

Saya tidak tahu apakah di sana semua bangunannya lama atau ada yang dibangun baru. Karena kalau diperhatikan di sana ada hotel, museum, tempat makan dan banyak toko-toko. Namun karena bangunan di disain mirip sehingga tampak seperti sama dengan bangunan lama. Contoh hotel yang sempat saya ambil gambarnya, sepertinya batu-batu yang digunakan masih baru. Jadi mungkin saja tidak semua bangunan di sini adalah sejaman dengan gereja St Michel.

Di sini, layaknya sebuah perkampungan, banyak lorong untuk keluar masuk dari satu area ke area lainnya. Mungkin bangunan-bangunan tua lama yang ada di sekitar gereja adalah memang tempat tinggal para keluarga gereja (?) atau orang-orang penting lainnya. Di atas pun ada taman atau semacam ruang terbuka yang bisa melihat pantai. Jadi untuk duduk-duduk santai berdiskusi atau sekedar ngobrol tampak sangat cocok.

Di sini angin sangat kencang, mungkin karena ada di pinggiran pantai. Bahkan katanya kalau laut sedang pasang, pinggiran Mont St Michel pun akan terendam sehingga tidak bisa diakses dengan jalan darat. Karena angin kencang itu pulalah, maka di sini saya bisa menangkap adegan yang tidak diduga, yakni anak perempuan kecil yang roknya terangkat ketika hendak memoto burung camar.😀 (Lihat: Les Oiseaux de Mont Saint Michel)

Nancy, 14 Juillet 2012

—oOo—