Tidak ada salahnya saya disini menulis tentang pelajaran di kelas. Sebab beberapa di antaranya cukup menarik. Sebut saja pelajaran grammaire (tata bahasa) kemarin pagi. Tata bahasa Perancis memang luar biasa unik dan tidak mudah. Sangat berbeda dengan tata bahasa Indonesia yang saya pikir jauh lebih sederhana. Di dalam bahasa kita tidak dikenal gender untuk benda, tidak dikenal konjugasi untuk kata kerja, juga tidak dikenal l’accord untuk kata kerja dan kata sifat.

Monsieur Emmanuel Hérique adalah guru yang handal. Contohnya begini. Kemarin dia menjelaskan tentang le pronom QUI, yang menurutnya diasosiasikan dengan humaine (=orang). Dia mencontohkan kalimat berikut: “QUI est venue?” (Siapa yang datang), (1) apakah jawabannya orang? (misal: nama orang tertentu, atau mahasiswa, dst.) atau (2) bisakah jawabannya “un train” (kereta api). Begitu katanya. Kemudian dia mencoret kata “un train”. Artinya konsep pertanyaan dengan QUI dalam bahasa Perancis hanya bisa dijawab dengan orang (humaine). Dia menyimpulkan dalam setiap pertanyaan (untuk QUI) “TOUJOURS HUMAINE” atau selalu diasosiasikan dengan manusia. Contoh QUI lain untuk pertanyaan: QUIconque (whoever), n’importe QUI dan c’est pour QUI.

Penjelasan di atas tidak menarik sampai penjelasan berikut ini. Dia menuliskan dua kalimat berikut:

(1) La femme QUI regarde……

(2) La pierre QUI est …..

Harusnya kedua contoh kalimat ini bisa mengecoh siswa untuk memberikan jawaban. Sebab untuk kalimat pertama, pemakaian QUI tidak menjadi masalah karena subyek kalimatnya adalah humaine atau LA FEMME (perempuan itu). Kalimat kedua, mungkin dia ingin mengecoh siswa mengingat Pierre bisa jadi nama orang tetapi maknanya akan menjadi “batu cadas” ketika ditulis la pierre. Mungkin harapannya murid akan membenarkan pertanyaan apakah QUI valid untuk kedua kalimat di atas, karena sama-sama tentang “humaine”. Tetapi karena ada murid yang tidak tahu arti la pierre, maka dia segera mengganti kata tersebut dengan la table. La table jelas-jelas bukan “humaine” tetapi mengapa di sini masih valid?

Di sini dia menjelaskan tentang makna metafora (=metaphore), dalam arti bahwa “la table” (meja) walaupun bukan orang maka bisa di-“orang”-kan istilahnya karena dia mempunyai posisi sebagai subyek, seperti orang yang menjadi pelaku. Contoh lain untuk bukan kalimat tanya, metafora berlaku juga untuk obyek, seperti pada dua kalimat yang dicontohkannya berikut ini:

(1) ________ QUE je vois.

(2) La femme QUE _______.

Begitulah cara seorang guru yang baik menjelaskan sebuah konsep kepada muridnya. Jika murid mendapat kesulitan untuk memahaminya dalam satu penjelasan, maka dia akan menjelaskan dengan cara lain tanpa menghilangkan pemahaman yang akan diberikannya. Good job, I like it!🙂

Nancy, 14 Juillet 2012

—oOo—