Kota pelabuhan yang menghadap ke Selat Inggris ini sepertinya sangat terkenal. Seperti umumnya kota pelabuhan, di sini sangat ramai. Jauh lebih ramai dibandingkan kota Nancy yang relatif sunyi, apalagi di hari Minggu. Orang lalu-lalang, tampak kapal-kapal di pelabuhan dengan tiang-tiang layarnya yang menjulang.

Kota ini sepertinya sebuah kota tua dengan model benteng pertahanan begitu. Artinya untuk memasuki kota harus melalui gerbang pertahanan kota. Dilihat dari bangunannya tampak sangat artistik, khas dengan gaya Eropa-nya. Saya tidak mengerti di kota-kota Perancis ini entah itu di kota pelabuhan atau di kota dengan ketinggian tertentu (seperti di kota “banyol”), selalu saja ada bunga-bunga yang disimpan di pot yang digantung. Dan itu indah!

Di lorong-lorong kota yang diindungi oleh dinding-dinding tembok benteng yang tinggi, tampak kehidupan yang ramai sekali. Orang lalu-lalang, makan, mengamen, atau menjual jasa melukis. Pelukis-pelukis ini hebat sekali karena dia benar-benar melukis obyek orang. Lukisannya realisme seperti Basuki Abdullah. Pelukis potret.

Pengamen di sini tampak serius, seperti halnya pengamen musik. Empat orang pria dengan dandanan rapi, 2 orang muda 2 orang sudah agak tua. Mereka bermain musik dengan sangat apik. Katanya salah satunya, “Uang bukan masalah bagi mereka yang penting bermain musik (menghibur)”. Tapi tentu saja ini basa basi, karena kalau tidak, tidak mungkin menggelar tempat menampung koin-koin Euro (disini uang recehan disebut monnaie), tetapi kalau sedang beruntung ada juga yang memberikan lembaran Euro, walaupun mungkin hanya 5 Euro. Tapi lumayanlah. Yang menarik adalah keseriusan orang-orangnya dalam membawakan alat-alat musik tersebut. Bagus sekali!!

Tempat makan di sini bertebaran. Tapi jangan tanya harga seperti saya sudah jelaskan di bagian lain. Banyak para pelajar kelautan yang makan di sini. Mereka, orang-orang di sini sepertinya sangat menyukai “moules” (=kerang), dan harganya bisa 10-12 euro seporsi yang menurut saya tidak banyak. Tapi “moules” adalah makanan dengan tingkat kolesterol tinggi kata teman saya. Di Indonesia, saya suka “moules” ini, apalagi di sana sangat murah. Jika beli 12 euro “moules” di Indonesia, sudah pasti sangat kenyang.😀 Cuma sayangnya, di kita sering ada pedagang curang yang menggunakan pewarna kain agar tampak “moules” menjadi menarik. Jadinya takut makan “moules” di negara kita.

Ada yang menarik ketika pergi jalan dari hotel ke Saint Malo, dimana di pinggir jalan saya menemukan tulisan besar “YAMAHA” di dinding sebuah gedung. Saya mengabadikannya karena ini pemandangan yang langka. Di sini orang sangat menyukai menggunakan produk dalam negeri, atau paling tidak barang buatan Eropa. Eropa bersatu mungkin akan membuat mereka jadi sangat kuat untuk menghadapi penetrasi pasar dari negara asing. Sementara di negara kita, merek-merek mobil Jepang saja merajalela. Mobil Esemka? Saya pikir itu ibarat aksesoris dalam sebuah benda. Hanya pemanis saja, dan tidak mungkin menggantikan otomotif negeri Jepun. Terlalu berat untuk merubah kondisi yang ada. Apalagi tidak didukung dengan keinginan Pemerintah dan bangsa secara utuh. “Made in China”, apalagi! Kita seperti dibombardir oleh produk-produk asing.

Eropa bersatu dalam segala aspeknya sepertinya menjadi wacana yang masih hangat dibicarakan para politisi dan kepala-kepala negara di Eropa sini. Sampai kapan kita akan bisa menjadi bangsa yang bisa BERDIKARI seperti yang menjadi idealisme Bung Karno, “Berdiri di atas kaki sendiri”!

Nancy, 14 Juillet 2012

—oOo—