Kejutan terjadi di hari ini ketika mengunjungi Les fermes auberges. Jika diartikan sebenarnya adalah Hostel Pertanian (les fermes = pertanian, l’auberge = hostel), yakni sebuah hostel yang ada di area pertanian dengan ketinggian tertentu sehingga udara di sana terasa sangat dingin dan berangin. Menurut catatan yang diberikan panitia, ketinggiannya di atas 1000 meter di atas permukaan laut. Bukan cuma saya yang orang Indonesia yang setiap hari mendapat sinar matahari. Teman-teman dari Eropa pun merasa kedinginan. Di dalam hostel memang terasa hangat, tetapi sedikit saja pintu dibuka, maka angin dingin terasa masuk ke dalam.

Kebetulan saya semeja dengan teman-teman dari berbagai bangsa, tapi sebagian besar (4 orang diantaranya) orang Hongkong. Sisanya Barbara dari Denmark, satu  cowok Norway dan satu cewek dari Rusia. Saya sempat berbincang-bincang dengan anak-anak Hongkong itu, Stanley, Irish (?), dan dua lagi saya lupa menanyakan namanya. Teryata dari ke-40 peserta mereka yang dari Hongkong itu (satu organizer) mereka baru kenal di sini, di Nancy. Mereka tidak saling kenal sebelumnya. Saya pikir, tipikal orang Asia sama saja. Agak pemalu. Seperti saya juga.🙂 Tetapi mereka sebenarnya orang yang “hangat” dan bisa diajak ngobrol dan bicara. Mereka biasanya malu karena level bahasa Perancis mereka sebagai “débutant” (pemula). Jadi ketika ditanya pelayan yang cantik (padahal ini ada di atas gunung yang sangat tinggi), mereka kelabakan. Karena bahasa Perancis saya lebih baik, jadi saya bisa mengkomunikasikannya dengan dia. Orang Hongkong, bisanya bahasa Inggris dan Hokkian, sementara orang Perancis itu hanya bisa bahasa Perancis dan sangat sedikit bahasa Inggris. Jadi kita bisa bersyukur di sini, sebab bahasa Inggris kita masih lebih baik dibandingkan orang-orang Perancis yang gagah-gagah dan cantik-cantik itu.😀 Mungkin tepatnya dia gadis desa yang cantik. Kalau di Indonesia sudah jadi bintang film dengan wajah seperti ini.🙂

Stanley berbisik pada saya bahwa ini hari terakhir Barbara di course ini, jadi mereka pada minta foto bersama. Barbara, gadis tomboy dari Denmark, temannya Abigail dari USA. Kalau mereka berdua sudah ngobrol dalam bahasa Inggris, seru sekali. Saya suka dengan cara mereka ngobrol. Aksen Amerika-nya Abigail tampak sekali. Gadis berusia 18 tahun, wajah khas Amerika dengan mata nya yang biru. Barbara setahun lebih muda walau badannya lebih besar.

Di luar memang terasa dingin, bahkan sangat dingin, tetapi suasana di sini terasa sangat hangat. Anak-anak Hongkong itu masih muda-muda, tetapi mereka berani dengan segala keterbatasan mereka berbahasa Perancis atau bahasa Inggris dengan logat Hokkian-nya. Saya beruntung bisa membantu mereka memesankan minuman “chocolat chaud” (=shokolasho) dan “verre de lait” (=ver-deu-le) alias “coklat panas” dan “segelas susu”.

Walau udara dingin begitu menusuk, tetapi kuda-kuda di sini asyik merumput, mungkin sedang makan sore. Mereka seperti tidak merasakan kedinginan yang kita rasakan. Sama seperti kebingungan saya ketika melihat unta-unta di sepanjang padang pasir antara Medinah dan Makkah. Mereka asyik berlari-lari atau bahkan duduk dengan tenangnya di tengah terik matahari yang menyengat, mungkin sekitar 50 derajat Celcius. Padahal ketika kita berhenti di sebuah masjid untuk melakukan shalat, hembusan udara panas terasa seperti sedang berada dekat api unggun. Subhanallah, Tuhan memang tidak akan pernah menganiaya makhluk-Nya. Masing-masing sudah dibekali untuk bisa bertahan di lingkungannya.

Di dalam ketinggian dan kedinginan inilah, saya menuliskan kata-kata puitis di catatan saya:

“…. Cair di tengah kebekuan, hangat di tengah kedinginan, ….. semoga semuanya berakhir manis.”

Kata-kata itu ditulis sebagai pengusir rasa sepi di sini, karena hidup seperti dalam keterasingan dalam segala halnya.

Nancy, 16 juillet 2012

—oOo—