Ekskursi di atas sungai Seine Paris, lumayan menarik. Sungai Seine yang membelah kota Paris itu bersih dari sampah dan tampak hijau. Berbeda dengan sungai-sungai yang membelah kota-kota di negara kita. Sebut saja Cikapundung yang membelah kota Bandung, airnya keruh dan kotor. Banyak sampah dan gak terawat. Dan mungkin tidak ada keinginan juga untuk merawatnya. Tidak ada aturan yang bisa menjaga keindahan dan kebersihan sungai itu. Seperti halnya sungai Seine, andaikan sungai Cikapundung bisa dijaga dan dirawat, maka ada ekskursi dalam bahasa Perancis “Bandung sur Cikapundung”. Wah….. kapan bisa begitu ya? Poinnya adalah, pemberian Tuhan kalau dijaga dan dirawat dengan baik maka akan menjadikan manfa’at bahkan berkah, sebaliknya jika tidak dijaga dan dirawat maka akan menimbulkan bencana. Dimana-mana banjir ketika hujan dan menjadi penyakit menyebar.

Banyak orang yang tertarik untuk sekedar berjalan-jalan di atas sungai Seine ini. Turis mancanegara banyak yang ikut dalam tur perahu “Bateaux Mouches” ini, termasuk rombongan Cours d’Ete. “Kamu tahu muche?“, tanya teman Hungaria saya. “Sais pas!” (=se-pa) saya bilang karena memang gak tahu.😀 Maklum vocab terbatas. “Petit animal” (=petitanimal) katanya. “Butterfly?” saya coba nebak-nebak dalam bahasa Inggris. “Non…..” katanya. Ternyata “muche” = “lalat”. Tapi kenapa “lalat”? Mungkin karena perahu ini seperti lalat yang terbang, cuma di atas air. Begitu penjelasan teman saya. Kreatif!!

Selain memang enak menikmati jalan-jalan di atas air, para turis asik memoto-moto apapun yang bisa di-foto. Karena di sepanjang alur sungai, kiri-kanannya adalah jalan-jalan besar di kota Paris. Dan banyak gedung-gedung yang menarik untuk difoto, sebut saja Gereja Notre Dame yang terkenal itu. Demikian pula dengan menara Eiffel. Semuanya dilewati. Perjalanan ini mengingatkan saya waktu  jalan-jalan di sungai Chao Praya – Thailand, tetapi perahu di sini lebih besar dan bagus. Pasti tiketnya lebih mahal juga, saya tidak tahu karena sudah disiapkan oleh panitia.

Semula orang-orang pada duduk dan tidak mudah untuk mendapatkannya. Sebab ketika saya tanya apakah kursi ini kosong, rombongan lain bilang sudah ada orang. Walaupun dengan bahasa isyarat. Karena banyak juga turis asing, entah dari mana mereka dan belum tentu bisa bahasa Perancis. Tetapi ketika perahu sudah mulai bergerak maju. Maka para fotografer amatiran ini mulai panik dan keluar dari tempat duduknya. Tadinya yang pada kesulitan mencari tempat duduk, malah kursi-kursi menjadi kosong ditinggalkan, karena orang-orang pada berdiri mencari posisi yang “strategis”, untuk memoto dan difoto. Kenangan sepanjang jalan di atas sungai Sein yang tidak boleh terlupakan. Paris su La Seine. Mungkin begitu yang ada di pikiran masing-masing. Apalagi ketika background-nya bangunan-bangunan menarik seperti yang saya sebutkan tadi.

Ada yang berfoto malu-malu, ada juga yang gak tahu malu. Pokoknya apapun background-nya yang penting di-foto. Dan kalau lewat jembatan, mereka melambai-lambaikan tangan. Padahal yang di atas jembatan sedang melihat ke arah lain. Apalagi ke Paris tidak setiap waktu. Mahal di ongkos kalau buat orang kita.

Karena saya berada di bangku kedua dari pinggir dan sementara orang di samping saya, mungkin cewek orang Vietnam (karena di sini banyak orang-orang dari negeri asa jajahannya), tidak mau bergerak juga. Sebagai orang timur yang gengsian, maka saya juga tidak bergerak. Saya bertahan dengan keadaan saya sambil coba mengambil foto-foto sebisa mungkin. Ini lebih aneh lagi, memoto seadanya!!😀 Karena saya sendirian, tidak ada teman ngobrol juga, saya pikir asal kelihatan memoto, maka saya jadi kelihatan seperti turis-turis lainnya yang antusias. Bahkan ekspresif sebagian dari mereka. Menjerit di kala kakinya terinjak orang lain!

Memoto dari atas sungai, paling-paling hanya bisa mengambil bagian atas dari gedung atau bangunan tersebut. Saya pikir apa menariknya? Mengambil gambar tidak utuh. Untungnya langit Paris lagi cerah, jadi lumayan hasilnya enak dilihat. Selain karena gambar yang diambil artistik karya budaya bangsa Latin ini, juga backround biru langit berawan, cukup indah dilihat. Namun demikian, lama-lama bosan juga, akhirnya saya lebih suka memoto yang memoto. Seperti di Mont St. Michel. Cuma bedanya obyeknya bukan burung, tapi apapun yang menarik selain burung.😀 Dan juga di sini tidak ada rok anak kecil yang terangkat. Yang ada, anak kecil yang sedang asyik sendiri di tengah keramaian orang-orang. Mungkin dia bingung sambil berpikir mengapa orang-orang dewasa ini berperilaku aneh, berebut berfoto dengan berbagai gaya, dst. Anak kecil memang pikirannya sederhana, seperti dalam cerita The Little Prince dalam tulisan Antoine de Saint Expéry.

Nancy, 23 juillet 2012

—oOo—