Ini bukan bahasan serius tentang transportasi umum di Perancis, di Paris atau di Nancy. Itu adalah judul tulisan saya di kelas Grammaire pagi tadi. Ajaib memang, di kelas kadang saya mengerti apa yang disampaikan professeur, tapi kadang tidak ngerti juga. Seperti hari ini. Saya lihat tiba-tiba orang-orang pada nulis. Abigail teman dari USA yang duduk di bangku selalu depan saya, sudah menulis beberapa baris. Prof. Emmanuel sudah berkeliling melihat-lihat kerjaan anak-anak Inggris yang duduk selalu di belakang saya. Apa iya, disuruh nulis lagi seperti kemarin? Tapi apa yang ditulis? Pengalaman kemarin ke Luxembourg? Saya tidak ikut karena badan demam dan lelah sekali. Dampak kurang tidur? Dampak puasa? Wallahu’alam.

Bertanya ke guru di kelas, waduh…. bisa menjatuhkan “harga diri” saya, yang sebenarnya gak mahal-mahal juga.😀 Akhirnya saya punya ide, menulis dengan judul di atas, tentang pengalaman ekskursi di Paris. Nah, jika perintahnya ternyata tentang pengalaman ke Luxembourg, saya bisa berdalih sakit dan saya hanya bisa menulis tentang ekskursi ke Paris. Aman!😀 Dan menulislah saya seperti di bawah ini. Tentu saja dengan versi yang sudah dikoreksi di sana-sini. Karena kadang saya masih salah untuk menentukan “masculin” dan “feminin”, atau Prof. Emmanuel menyarankan posisi kata adverb yang digeser, atau juga saya masih salah menulis bentuk lampau “finir” yang harusnya “fini” saya tulis “finit”. Tapi secara umum sudah cukup bagus, karena kata monsieur Emmanual, “Il y a beaucoup de choses…..” (=il-ya-boku-de-shos) karena banyak elemen-elemen tata bahasa di tulisan saya, dan saya pun mulai berani menggunakan bentuk-bentuk “imparfait” yang kemarin dijelaskan. Prof. Emmanuel pun tentu senang karena saya menggunakan kata “la ville” untuk “kota” dan bukan “la cité”, padahal maknanya sama. Dia pernah bilang ke saya, kalau “la cité” itu “anglais”, maksudnya mungkin kata serapan dari bahasa Inggris. Berikut tulisan saya:

Le week-end dernier nous sommes allés à Paris pour l’excursion. Il y a eu deux excursions, “Paris sur Seine” et “Paris Insolite”. Après avoir fait chaque excursion, le temps était libre. On a pu faire quelque chose comme nous voulions. Je suis allé au Champs de Marc pour visiter la tour Eiffel. Beaucoup de touristes étrangers ont visité. En m’asseyant à l’ombre d’un arbre, j’ai pris certaines photos. J’ai continue mon aventure de Paris en prenant le métro. C’est le transport en commun de Paris. Il est rapide et relie beaucoup de lieus dans la ville. A Paris, c’est facile pour aller d’un lieu à un autre lieu en utilisant le métro. Après avoir fini l’aventure de ce jour, je suis retourné à l’hôtel, en prenant encore le métro.

Berikut terjemahannya:

Minggu yang lalu kami pergi ke Paris untuk melakukan (kegiatan) ekskursi. Ada dua ekskursi waktu itu, yakni “Paris sur Sein” (naik perahu di atas sungai Seine) dan “Paris Insolite” (jalan kaki di dalam kota Paris sepanjang 10 km). Setelah melakukan setiap ekskursi, saatnya bebas. Kita boleh melakukan apa saja yang kita mau. Saya pergi ke Champs de Marc (taman taman di dekat menara Eiffel) untuk mengunjungi menara Eiffel. Banyak turis asing berkunjung ke sana. Sambil duduk di bawah keteduhan sebuah pohon, saya mengambil beberapa foto. Saya melanjutkan petualangan saya di Paris dengan menggunakan metro. Itu adalah alat transportasi umum di kota Paris. Jalannya cepat dan menghubungkan banyak tempat di kota tersebut. Di Paris, mudah saja untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan metro ini. Setelah menyelesaikan petualangan hari itu, saya kembali ke hotel, masih tetap menggunakan metro.

Jadi kisahnya sederhana, tentang kesan saya terhadap metro, alat transportasi umum yang sangat bagus di Paris yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Dan ukurannya juga murah untuk masyarakat di sini. Kapan Jakarta atau Bandung atau kota-kota lainnya di Indonesia punya sistem transportasi sebagus ini?

Nancy, 25 juillet 2012

—oOo–