Singgah di Paris sehari, bukanlah hal yang diinginkan, karena sebenarnya saya lebih suka segera kembali ke tanah air. Sudah lama tidak makan mie kocok, bubur ayam, gorengan panas, dan lain sebagainya. Meskipun masih bisa “hidup” dengan makanan à la Perancis, tentu saja saya masih merindukan makanan-makanan negeri asal. Tidak bisa dibohongi! Selain itu yang penting juga saya merindukan suasana azan di tiap-tiap waktu shalat. Lima kali sehari, yang tidak pernah terdengar di sini. Baik di Paris, juga di Nancy. Shalat harus di jama’ qoshor karena rukhsah. Tidak terasa suasana di bulan Ramadan di sini. Tetapi kalau memang harus tinggal sehari di Paris, apa boleh buat. Barangkali ada hikmah dan kejadian yang menarik dan menyenangkan selama sehari di sini. Karenanya siang ini saya coba pergi ke La Grande Mosquée de Paris, atau Mesjid Agung Paris, untuk bisa mengetahui barangkali ada suasana yang agak berbeda.

Di Paris, kembali menginap di hotel yang lama, hotel di mana pertama kali datang ke Paris, yakni “Ibis Budget Hotels” di Avenue Jean Jaurès. Saya mulai kenal wilayah ini karena waktu ekskursi di Paris, pada saat jam bebas, saya menyempatkan diri ke sini, melihat kanal di dekat hotel, fasilitas umum dan sempat membeli sejumlah belanjaan untuk sekedar buka puasa. Yang ternyata kebanyakan, dan sekarang ada yang terbawa kembali ke Paris.

Dengan modal bahasa Perancis pas-pasan, lumayan bisa mengerti apa yang disampaikan resepsionis. Jadi ketika saya sodorkan nomor reservasi yang telah dilakukan oleh organizer kami di Jakarta, sementara sebelumnya teman saya sudah dicek. Ada kata kunci yang saya tangkap yakni “parallèlement”. Saya mengerti bahwa dia bisa mengecek data secara bersamaan atau paralel, karena yang mem-booking adalah orang yang sama. Dia tahu bahwa ada dua kamar yang di-booking tanpa harus melihat kode saya. Pasti ketika melakukan pencarian di sistem dia, ketika muncul kode reservasi teman saya, muncul pula kode yang lain. Sistem yang bagus! Atau ketika dia menyebut pembayaran “séparément”, berarti pembayaran dilakukan secara terpisah atau masing-masing. Demikian pula ketika menyebut “Code d’accès”. Jadi so far masih aman untuk check-in hotel. Alhamdulillah!

Akhirnya dapatlah saya kamar nomor 321. Setelah naik ke lantai 3, dengan teman saya. Barulah saya sadar ada sesuatu yang teringat di masa lalu, waktu pertama kali datang ke Paris. Saya merasa bahwa saya mendapat kamar yang sama, karena nomor 321 ini tidak terurut sesuai dengan urutan nomor kamar. Kamar yang lain sendiri urutannya. “Wah, kayaknya ini kamar saya yang dulu!” saya bilang ke teman saya. Benar saja, saya mendapat kamar yang dulu. Saya masih ingat dengan view dari jendela. Ada gedung-gedung apartemen. Saya jadi bingung, kok bisa?!

Yang lebih menarik lagi, sepatu, celana, ikat pinggang, baju dan jaket yang saya pakai (entah dengan kaos kaki) adalah apa yang dulu dipakai pertama kali datang ke Paris. Persis sama. Sepatu “Pierre Cardin” jadul saya yang mungkin sudah nggak model, celana jins “Carvil” yang dibeli dari Carrefour Lebak Bulus saat diskon 50%, ikat pinggang kulit produk lokal yang diberi label merek terkenal, jaket “Nike” saya dengan logo “le coq” timnas sepakbola Perancis warna merah, dan yang tak boleh lupa kaos warna hitam, made in Bandung, yang dibuat sendiri sebagai pesanan khusus untuk reuni keluarga di bulan Agustus mendatang setelah Lebaran. Saya jadi seperti kembali ke masa lalu. “Ya Tuhan, ini apa lagi?” kata saya spontan tak kuat menahan tawa. Apakah ini bagian dari “akhir cerita yang manis itu?” Benar-benar diluar nalar saya.

Saya telpon organizer saya di Jakarta untuk menyampaikan “laporan” pandangan mata kami, bahwa kami sudah selamat sampai di Paris. Setelah diceritakan kejadian yang saya alami, di sana dia ketawa-ketawa, dan sambil bilang “Wah déjà-vu!!”. “Benar!” saya bilang, mengiyakan. “Tapi kamu tahu gak kaos yang sedang saya pakai saat ini? Itu bertuliskan déjà-vu”, kata saya. Dan teman pun terdengar tertawa lebih nyaring lagi di seberang sana, nun jauh di sana di Jakarta.

Hal kebetulan dan aneh, sekaligus lucu terjadi menjelang kepulangan saya ke tanah air. Cukup untuk menghibur saya yang sudah merindukan tanah air tercinta. Semoga semuanya berakhir dengan manis.🙂 Insya Allah!

Paris, 29 juillet 2012

—oOo—