Ini adalah ngabuburit termahal yang saya lakukan, karena saya melakukannya di Paris.🙂 Teman saya yang memang masih sangat muda punya banyak rencana. Ada benarnya juga, sekalian di Paris. Dan di sini banyak tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi. Saya sendiri lebih memilih pergi ke Mesjid Agung Paris, dan karena di peta tampak ada taman di dekat mesjid, maka saya pikir taman itu menjadi tujuan lainnya. Tidak banyak tempat yang ingin dituju, karena saya harus mengirit tenaga sehubungan dengan durasi waktu puasa yang 18 jam. Atau 1,5x dari yang biasa dilakukan di tanah air.

Turun di halte metro “Place Monge” ternyata tidak tampak tanda-tanda masjid. Saya coba selusuri jalan, sambil kadang-kadang berhenti untuk melihat peta di halte bis. Arah saya benar, mengarah ke Pusat Kebudayaan Arab. Setelah masuk ke jalan di dekat-nya, saya terheran-heran. Loh, ini mah jalan yang dulu dilalui waktu ekskursi “Paris Insolite” minggu kemarin?! Saya masih ingat merek Levis yang tertera di salah satu bangunan. Saya selusuri lebih jauh, memang mengarah pada jalan yang dulu dilalui. Loh, kok itu ada tempat masuk metro Jussie? Ini mah benar-benar yang kemarin. Berarti saya harusnya berhenti di Jussie bukan di Place Monge. Saya coba selusuri jalan lagi. Ada pedagang buah-buahan bertampang Arab, masih muda. Tetapi saya malas untuk bertanya, karena saya yakin dengan jalan yang ditempuh.

Di sebelah kiri, di seberang jalan tampak banyak orang berkerumun. Ternyata itu adalah pintu masuk museum Botani. Berarti harusnya tidak jauh, tetapi kenapa tidak tampak menaranya? Karena rasa penasaran, saya selusuri terus Rue Geofferoy St. Hilarie sampai ujung. Sebab saya pikir kalaupun tersesat, masih tidak jauh dari stasiun Jussieu, jadi bisa balik arah dan pulang dari sana. Walau mata sudah mulai berkunang-kunang. Mendadak pandangan menjadi agak buram. Apa mungkin karena asupan makanan yang kurang? Saya coba bertahan. Tak lama kemudian, di sebelah kanan tampak gedung dengan arsitektur timur tengah. Jangan-jangan ini yang namanya La Grande Mosquée de Paris? Loh kok ada tulisan “Restaurant”? Memang banyak kejutan hari ini. Tampak di pintu bangunan itu banyak orang keluar masuk. Apa ini pintu masjid, tapi kenapa yang keluar masuk justru orang-orang bule dan tercium bau masakan.

Daripada salah masuk, maka saya menyeberang masuk ke taman tumbuh-tumbuhan itu. Ada juga gedung museum di situ. Tapi saya tidak tertarik dan memilih jalan-jalan di musem botani itu yang mirip dengan sebuah taman seperti taman kota di Nancy. Hanya saja di sini banyak ditanam berbagai macam pohon dari berbagai belahan dunia (terutama Eropa). Saya coba cari yang berasal dari Indonesia, tidak ketemu. Sempat mengambil sejumlah foto di taman. Sambil berjalan, menahan lapar, saya berpikir, sebenarnya mesjidnya ada dimana? Keyakinan saya tidak jauh dari situ lokasinya.

Setelah menyelesaikan perjalanan di taman dan aksi moto-moto, maka saya kembali menyeberang jalan Geofferoy St. Hilarie dan coba masuk ke Rue Daubenton. Wah…. Ternyata saya menemukan apa yang dicari selama ini. La Grande Mosquée de Paris. Alhamdulillah! Banyak orang masuk, tidak hanya orang-orang Islam, tetapi orang-orang non muslim juga ada. Mereka duduk-duduk dan berfoto-foto di taman masjid, seperti halnya taman umum. Sementara di bagian dalam ada area tempat shalat. Tampak karpet yang sudah usang. Sementara para kaum muslimin banyak yang sedang membaca Al-Quran. Ada juga yang terkantuk-kantuk seperti halnya di mesjid kita, tetapi sangat sedikit. Kebanyakan mereka tadarusan. Ada dari bangsa Arab, bangsa kulit hitam, atau mungkin orang Perancis-nya sendiri. Saya sempat masuk dan melaksanakan shalat sunat tahiyyatul masjid, karena waktu shalat ashar masih 1 jam lebih.

Sambil memoto-moto taman, tampak ada seorang bule yang sedang asyik memoto sesuatu di sebuah ruangan. Ternyata di ruangan itu sudah berjejer piring-piring seperti yang biasa disediakan untuk buka puasa. Mungkin dia aneh melihat fenomena itu. Dia memoto dengan sangat serius. Saya pun tergoda untuk ikut memotonya setelah dia pergi. Seorang bapak tua bule datang memperhatikan dan masuk. Mungkin merasa aneh.

Ada yang menarik dari pemandangan di situ, yakni di taman mesjid ada seorang kulit hitam sedang khusuk shalat. Memang orang hitam ini suka tampak “lucu”, mereka dengan tenangnya melakukan sesuatu tanpa menghiraukan orang lain. Saya jadi teringat ketika umrah tahun lalu. Ada seorang kulit hitam shalat di tengah-tengah orang yang sedang melakukan thawaf. Tidak peduli panas dan banyak orang lewat, dia shalat dengan khusuk dan berdo’a.

Ketika mau meninggalkan masjid, ada seorang anak muda dengan kepala botak tetapi jenggot yang sangat panjang dan lebat membawa selebaran. Dikasihnya seorang ibu yang baru datang ke sana. Sementara dia mengabaikan saya yang sedang berjalan tidak jauh darinya. Mungkin dia melihat saya sebagai orang berwajah muslim.:D

Tadi sebelum masuk mesjid, saya sempat memoto-moto bagian luar mesjid dari jalan. Dan sempat pula mampir ke toko kitab yang rupanya dimiliki oleh seorang ibu Afrika dengan dandanannya yang khas. Saya membeli Al-Quran terjemah bahasa Perancis seharga 18 euro. Itu sudah paling murah. Sekalian belajar bahasa Perancis tingkat lanjut setelah selesai kursus di Nancy kemarin.

Pulang, sudah pasti balik arah ke terminal metro Jussieu. Cukup sudah pertualangan terakhir di Paris, mengirit tenaga karena pandangan sudah mulai kabur. Ketika saya sedang asyik memperhatikan peta di stasiun Jussieu, seorang bapak bertanya, apakah saya sedang mencari rute tertentu? Saya bilang, ya, mencari (stasiun) “Laumière”. Dengan baik hati, bapak itu menjelaskan bahwa saya ambil M7 (metro no. 7), kemudian turun di Place d’Italie, baru ambil M5 katanya. Sekali jalan dan tidak usah gonta-ganti lagi. “Merci beaucoup!” (=mersi-boku) kata saya. Saya tidak tahu dari mana arah datangnya bapak itu. Ketika masuk lorong-lorong bawah tanah, dia pun lagi-lagi menunjukkan jalannya. Padahal sebenarnya saya sudah mengerti bagaimana cara mengambil rute metro. Tapi tak apalah, kebaikan orang jangan ditolak.

Sebenarnya yang saya khawatirkan adalah tiket metro yang dari tadi gak jalan, padahal masih baru. Jadi ketika dimasukkan ke dalam alat untuk membuka pintu, dia memunculkan pesan error. Ketika di Laumière begitu. Saya lihat orang Perancis-nya sendiri, malah lompat begitu saja, setelah ketahuan sistemnya error. Beberapa kali error, di Laumière saya tanya ke petugasnya orang kulit hitam. Saya Cuma ngomong, “C’est valide?” Kemudian dia mengambil tiket saya, diperhatikannya sebentar, kemudian menggantinya dengan yang baru. Namun ketika di Jussieu, begitu tidak jalan tiketnya, saya langsung komplen ke petugasnya sambil berkata, “C’est quoi monsieur?” Petugasnya yang bapak-bapak orang bule kurang lebih bersikap sama dengan petugas di Laumière. Mereka sigap sekali, tanpa banyak tanya dan bicara. Dan saya pun bisa masuk. Syukurlah! Ternyata mungkin begitu, ketika tiket akses error, mereka siap menggantikannya dengan yang baru sepanjang benar itu tiket baru yang belum dipakai.

Dari Place d’Italie menuju Laumière tentu tidak susah, dan tidak terasa lama, segera sampai di tujuan. Saya mengambil la Sortie de l’Avenue Jean Jaurès, dan bukan Avenue Laumière untuk menuju ke hotel. Masih ada kebaikan dan kemudahan di kota sebesar Paris ini, yang esok hari akan saya tinggalkan. Jam 15.35 dari bandara Charles de Gaulle. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Tapi harus dipastikan bahwa check-in online dari Jakarta sudah bisa dilakukan sehingga di sini akan menjadi lebih mudah. Semoga!

Inilah ngabuburit terakhir di Paris. Sementara saya menulis, dari gedung seberang terdengar bunyi musik dan nyanyian. Langit Paris masih mendung. Ada hujan gerimis sebentar sekali, kemudian berhenti lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 19.17. Sementara maghrib di sini jam 21.34. Jadi masih harus menunggu 2 jam 17 menit lagi sebelum tiba berbuka puasa. Ada baiknya beli minuman dan makanan di mini market sebelah, yang meng-klaim menyediakan lebih dari 1.000 item dagangan. Ingin membeli jus yang segar dan buah-buahan, karena di kamar hanya ada sisa kue dan korma yang kemarin.

Paris, 29 juillet 2012

—oOo—